Rabu, 23 November 2016

ALTCE SUAL



Hari ini dimulai disaat fajar mulai menyingsing di sebelah timur, gunung lolombulan yang megah berdiri tegak dan menghalangi matahari yang mulai memberikan cahaya. Beginilah keseharian seorang ibu yang mengurusi 5 orang anak  bangun disaat subuh dan menyiapkan makanan untuk suami yang akan berangkat ke kebun untuk membuat gula batu. Paginya dia mengurus ke 3 anak yang akan sekolah sementara dua yang lain suda lulus sd. Dalam benak keluarga ini sekolah cukup sampai disaat sudah tahu membaca, menulis, dan menghitung.
Setelah jam menunjukan setengah sepuluh, wanita yang berumur 54 tahun itu kembali menyiapkan makan siang untuk Yansen yang sementara membuat gula batu di kebun. Setelah makan siang selesai di buat diapun mengantarnya dengan menggunakan kedua kaki yang Nampak di betisnya urat-urat besar muncul di permukaan kulit, hal seperti ini tak dihiraukanya karena menurutnya itu biasa terjadi pada wanita yang sering mengangkat beban yang berat. Dalam perjalanannya wanita ini sering bernyanyi demi menghibur diri dalam perjalanannya sampai tak disadariya dia sudah sampai di tampa gula.
“Tabea,” seru Altce kepada Yansen yang sementara temongka.
“tabea, kase jo di dekat tampa dudu itu kong ator jo Kamari tu makanan” seru Yansen yang terlihat rasa laparnya itu. Altcepun segera menyajikan makanan itu tanpa memikirkan kelelahannya karena baru saja tiba. Bagi dia adalah keluarga yang utama apalagi dalam membantu suami yang sementara mencari uang.
“kiapa reeng baru datang nge?” seru Yansen  sambil mengambil makanan.
“yah kasiang nga tahu tu Obrin baru ja skolah kong da iko dulu rapat orang tua murid dulu jadi da ta lat” jawab  wanita dengan senyum tipis namun mempesona itu.
Matahari sudah terlihat condong ke barat dan tiba bagi Altce untuk bersedia pulang ke kampung namun sebelumnya dia akan mencari kayu bakar. Yansenpun segera melanjutkan pekerjaannya yaitu akan batifar. “sudah joba potong kayu sayang. Sana ehh so ada kita da potong itu jo ngana bawa. Hati-hati di jalang ne” cakap si Yansen dengan penuh kasih sayang.
Si Altce-pun langsung menyambungnya “iyo makase neh angko le satu ba hati-hati ja nae seho”
Keduanyapun saling senyum dan berpisah yang satu kearah selatan menuju tampa ba tifar, yang satunya menuju ke kampung dengan membawa kayu bakar.
Sesampainya di rumah sejenak Altce beristirahat duduk sejenak dan berkata “Dei, minta api jo mama’ mo momasa dari so nda lama ki’ing papa so mo datang kong blum ada kopi”
“tunggu kwa eh ma’ masih ada kitia da beking nda lama” seru anak perempuan satu-satunya itu.
“satu ehh” jawab Altce dengan nada yang sedikit lebih keras.
Ketika nada sudah di naikan seperti itu Dei mengetahui ibunya sudah mulai marah.
“iyo re yah ta somo minta api”
Malamnya setelah mereka selesai makan malam Altce menyiapkan diri untuk beradah kolom dan diapun pergi bersama Yansen. Dalam khotbah penatua itu disampaikan jangan ada padamu ilah lain selain Tuhan yang di sambah dan jika demikian kau melanggarnya kau adalah orang yang sesat dan dianggap tidak bertuhan. Selesai beribadah mereka saling berjabat tangan dan didalam jabat tangan itu disisipi uang mulai dari sepuluh ribu sampai limapulu ribu. Setelahnya mereka pulang dan dalam perjalanan pulang si Harce dari arah jau terlihat tergesa-gesa menuju di hadapan Altce dan Yansen. “Kiapa ngana Harce so turupa apa ona lari-lari?” Tanya Yansen.
“mana tu papa Saul na Altce? So penting skali ini. Napa tu Yoni da jatung di pohong kata reeng kong dorang baru da tondongang tadi Cuma so dirumah no dia. Dimana tu papa” ucap Harce dengan expresi muka yang pucat dan tergesa-gesa. Mendengar hal itu Altce pun langsung mengantar Harce menuju orang tuanya itu.
Saul adalah pria satu-satunya di kampung yang boleh ba uru orang pata namun sedikit orang yang bersimpatik padanya hanya karena dia masih mempertahankan pegangan kanaraman dari orang tuanya. “papa… pa’ ehh buka dulu e” terdengar tarikan sandal dari dalam rumah dan Saul-pun membuka pintu Nampak dia masih memakai pakaian adat dan rumahnya begitu harum kemenyan. Jika seperti ini berarti Saul sedang merawat pegangannya itu. “kiapa eh Al?” Tanya Saul.
“papa Saul boleh mo pig lia tu Yoni da dapa karu’ musibah eh” mendengar hal itu diapun menjawab “ado butulem tadi kwa ada satu tuda jadi besae kita da ator yah da ba kase tanda karu reen itu. Manjo!” merekaun menuju ke rumah Yoni dan Nampak sudah banyak orang yang terkumpul dan ketika melihat Saul muka mereka tiba-tiba berubah menjadi sinis namun dia tetap focus menuju kekamar Yoni. “malam bae” dalam sapanya itu matanya lagsung tertuju pada Yoni dan melihat musibah Yoni dia langsung menyuruh istri Yoni mengambil minyak kelapa, tawaang, goraka dan saketa. Melihathal itu orang-orang yang ada di luar terdengar sedang mempermasalahkan jika diobati Saul malah akan lebih para dan  mereka menginginkan agar langsung dibawa kerumah sakit. Namun Saul tetap tidak memperdulikannya yang terpennting saat itu adalah menolong Yoni. Setelah dia mulai memegang kaki dari Yoni diapun langsung berkata “so butul tu kita pe perasaan kalu ngana ada da baku sedu akang. Cuma biar jo kase berdoa jo dia supaya da sehat-sehat kong dia so nda mo ulang” sambil mulai memijat kaki Yoni.
Kesokan harinya, seperti biasa Altce menyiapkan makanan untuk di bawa ke kebun untuk makan siang dari Yansen yang sudah pergi sejak subuh. Dalam pikiran Yansen masih terbawa olehnya tentang ayahnya yang menolong orang yang kesusahan seperti Yoni. Dia mulai berpikir untuk mengikuti jejak ayahnya dalam membantu banyak orang tapi dia masih takut di cap oleh gereja bahwa dia ini menduakan tuhan. Namun hal seperti itu sudah tak dihiraukannya, di dalam pikirannya hanyalah ingin meneruskan pekerjaan ayahnya dalam menolong orang.
Altce pun tiba dengan keceriaannya seperti hari kemarin dan setelah itu Yansen langsung mengajaknya berbicara tentang pikirannya tadi yaitu untuk meneruskan pengetahuan dari ayahnya itu. Sempat mereka saling tidak bercocok pikiran karena masih terpengaruh dengan doktrin gereja namun mereka mendapat kesimpulan bahwa mereka Altce bersedia mengantarnya pada ayahnya untuk membicarakan hal itu.
Setelah mereka selesai makan malam, merekapun bersedia menuju rumah ayah mereka yang tidak terlalu jauh. Sesampainya dirumah mereka langsung duduk dan tanpa basa-basi Yansen langsung membicarakan hal mulia yang ingin dia lakukan itu. Begitu banyak penjelasan yang di kemukakan oleh Yansen dan Saulpun sudah memahami bahwa niat mulianya itu patut di hargai. Dan jawabannya terhadap Yansen adalah “eh alo deri reeng bagitu kita senang skali ngana suka moba tolong orang Cuma kita mo bilang itu kwa mo datang sandiri di mimpi bukang kita yang kase mar tu tete manis. Kalu memang ngana suka jangan tolak itu kong beking kasana tu bagus kong jang lupa ja berdoa”
Mendengar hal itu keyakinan akan pemberian yang maha kuasa terhadap Yansen akan datang lewat mimpi dan pulanglah mereka dan beristirahat.
“tabea eh kakarapi nio aweang iwe’eku a ico sa re’ ico masale’ temulung tou ang kayobaan anio… “
“dalam nama Yesus yang berkuasa! Sapa ngana pigi bajao ngana” diapun berlari dengan begitu cepat dan ketika dia menoleh kebelakang mereka tepat di belakangnya dan ingin memberikan sesuatu Sampai akhirnya dia terbangun.
“Yansen, bangong dulu eh da mimpi jaha kita”
“kiapa ngana e?”
“kita da mimpi ada banyak skali orang pendek da ba dekat kong ada dia mo kase pa kita abis itu dia bilang ‘ada kita mo kase pa ngana kalu reeng ngana suka mob a tolong orang di bumi …’ masih ada lagi laeng-laeng dia da bilang mar kita so langsung da straf kong kita kine lari abis itu tabangong”
“so ngana karu reen tu da dapa pilih eh kiapa ngana da tolak papa da bilang jangan tolak kalu memang suka moba bantu orang”
“ih itukan ngana bukang kita yang  da ba minta”
“Cuma ngana nda suka so moba bantu orang dang? Ngana ini ehh apa reen tu pa angko pe pikiran eh?” tanyaa Yansen.
Tanpa menjawab pertanyaan itu sebenarnya dalam lubuk hati dari Altce ingin menerima itu namun dia masih terbawa dengan pikirannya tentang apa yang nanti akan gereja katakana terhadapnya.


Tataaran, Minahasa 30, Agustus-2015

KATINDISANG



Malam ini adalah malam yang seperti biasa. Malam yang selalu mengganggu pekerjaanku ketika ingin membuat tugas kuliah, kebisingan yang di buat oleh teman yang ada di sebelah kamarku selalu menggangguku. Setiap malam aku merasakan kebisingan seperti ini music yang begitukeras di perdengarkan sehingga membuat kegaduhan di sekitar kamarnya dan tak terkecuali kamarku yang hanya berdampingan. Dalam hatiku bertanya “apakah anak yang satu ini tidak ada tugas kuliah?” semenjak kamarku berdekatan dengan dia 3 tahun lalu, aku tak pernah melihatnya membuat tugas kuliah. “kasihan orang tuanya yang membanggakannya di kampung sementara dianya tak pernah mengingat perjuangan orang tua dalam membawanya di kampus” gumamku dalam hati.
Rasa kesalku semakin tinggi ketika musiknya belum berhenti di saat jam menunjukan setengah sebelas malam. Akupun memberanikan diri mengetuk pintunya dan mengingatkanya agar mengecilkan volume musiknya “Bartz, boleh mo se kecil tu tape soalnya kita jabeking tugas deng so sadiki lat ini”
Kemudian dia merespon perkataanku denan nada yang sedikit keras “oh iyo, sorry neh bro nga katu jabeking tugas kita so ganggu. Mar nda guna kwa ngana mobeking tugas ehhh ujung-ujungnya ngana mo ba klar musti mo bayar. Deng banyak kita ja lia skarang klar cepat lantaran banyak doi”
Aku melihat laki-laki ini sudah terpengaruh dengan alcohol ketika dia berbicara aku mencium bau alcohol dalam mulutnya.  Pikirku tak guna berbicara dengan orang yang sudh mabuk kemudian aku membalasnya dengan senyum dan berkata “ohhww… so mo pi seblah dang kita neh banyak kwa tugas”
“ok dang bro”
Akupun kembali ke kamarku dengan langkah yang perlahan-lahan karena sentakan yang biasa akan mengeluarkan bunyi yang kuat ketika berada di bawah rumah dan di bawah rumah ada yang sementara tidur. Aku pun melanjutkan tugas yang sementara di buat dan di temani cicak yang berukuran besar yang menempel di dinding seakan ingin membantuku membat tugas. sementara asik mengetik lampu yang ada di kamarku tiba-tiba mati dan menurutku lampu yang baru ku ganti beberapa hari yang lalu itu kembali putus dan akupun pergi keluar rumah mencari kios yang ada di daerah tempat kosku. Akupun tak sadar saat itu waktu sudah tengah malam dan sudah taka da satupun kios yang di buka dan aku memutuskan untuk kembali dan sisa batrey yang ada di laptop saya gunakan untuk mendengar music dengan menggunakan headset. Music itu membawaku di alam bawah sadar dan membuat mata yang awalnya terbuka lebar seakan tak bisa lagi di buka dan akupun terlelap.
tiba-tiba aku melihat satu cahaya yang kecil menghintari kamarku seakan ingin membakarnya, dia melewati buku-buku yang ada di atas mejaku dan cahaya itu mengikuti huk-huk buku-bukuku. Akupun melihat tempat yang cahaya itu lewati menyala aku takut melihat itu dan perasaanku kamar ini akan terbakar dengan cahaya yang tak kutahu dari mana asalnya dan otakku mengolahnya sampai aku menyimpulkan bahwa itu adalah cahaya api. Cahaya itu kembali melayang dan berada di dalam balon lampu yang tadi mati, balon itu bergoyang-goyang dan tiba-tiba dia dengan kecepatannya menusuk jantungku dan saat itu badanku seakan di ikat dengan tali dan aku tak bisa menggerakannya mulutkupun enggan mengeluarkan suara, aku berusaha berteriak tapi tak bisa keluar suara. Aku tak tahu apa yang terjadi dengan badanku saat ini, aku berusah sekuat tenaga menggerakan kakiku yang takancing untuk kembali bergerak dan ketika kakiku bisa di gerakan kembali badanpun kembali normal dan aku berpikir tadi kejadian tadi adalah nyata dan aku merasakan kakiku kedinginan dan tanganku merasakan keram karena badanku menjepit tangan kiriku ketika sedang tidur. Baru ku sadari ternyata aku tertidur disaat pintu kamarku terbuka saat aku hendak berdiri hendak menutup pintu itu, aku melihat ada orang di belakan pintu kamarku dan aku tak mengenalinya hanya bentuknya aku bisa tahu bahwa itu adalah manusia “tapi mengapa pria ini berada di balik pintuku di saat seperti ini?” pikirku.  Sejanak aku berdiam dan berusaha mengenali pria yang ada di balik pintu itu dan bulu-bulu nyawaku mulai berdiri, perasaan takut muncul di saat pria itu hanya diam dan ketika aku hendak mendekatinya tiba-tiba pria yang ada di balik pintu itu dengan cepat menyambarku dan di saat itu juga aku menyimpulkan bahwa itu adalah hantu, dan aku terjatuh saat bayangan itu menabrakku. Akupun berlari menuju kamar Bartz dan seikit keras aku mengetuk pintunya karena pikiranku saat itu sudah penuh dengan ketakutan “Bartz… Bartz…. Bartz buka kwa eh nda lama” kira-kira ketukan kesepuluh ada suara terdengar dari dalam kamar “kiapa?”
“buka kwa ehh nda lama”
Diapun membuka pintu kamar dan aku melihat ada seorang wanita berada di kamarnya dan aku sudah taklagi menghiraukan itu dan langsung aku mengambil segelas air untuk minum dan “kiapa re’ ngana?” Tanya Bartz dengan muka yang kelihatan mengantuk.
“ada bayang da tabrak kita kong rubu di kamar” jawabku dengan perasaan yang masih terbawa dengan ketakutan.
“hee seker, Cuma ki’ing da mimpi ngana kong ngana bilang bagitu kendo’on” balasnya dengan respon yang tak percaya.
“sungguh mati kita nda da ba dusta! Sedangkan pertama kita da tidor kong kpa ona’ kita da lia-lia ada cahaya ja baba terbang di dalam kamar, mar kita tahu kita da tidor itu Cuma sama deng nda da tidor kong kage-kage tu cahaya itu ba maso kage pa kit ape badan kong so nda mo ta bagera kita deng so baba taria nda jakaluar suara deng kita pe kaki so ta kancing ...” aku berusaha memberikan penjelasan mengenai kejadian yang baru ku alami tadi dan akhirnya dia mulai percaya dengan penjelasanku.
“ohh da katindisang koreeng ngana ehh. Bahaya eta’ tu bagitu eh minggu lalu ada kit ape tamang da katindisang kong mati lantaran dia so nda da ta bangong” ucapnya.
Kemudian kembali dia bertanya “kong bagimana tu ngana da tabrak bayang? Manjo torang pi pa ngana pe kamar.”
Kemudian aku menjelaskan ulang insiden yang terjadi tadi sembari kami menuju ke kamarku dan ketika di kamarku kami tak melihat apa-apa yang ada hanyalah kegelapan. “kiapa reen gelap?” tanyanya.
“nda tahu ehhh da kage-kage da putus kwa tu balon kong kita pasang lagu di laptop kong tidor. Kita mo tidor pa ngana neh kalu boleh”
Kemudian Bartz mengatakan “ada ta pe maitua situ ehh. Mar bole yah.”
Kamipun kembali ke kamarnya sambil bertanya “batz, ibu kos ja marah onah ja antar cewe disini ehh apalagi so tidor sama-sama?”
Kemudian dengan wajah yang sedikit kesal dengan pertanyaanku dia menjawab “so itu ba diam, kita da kase maso baba diam kwa dia”
Melihat expresi dan gayanya yang sedikit kesal, akupun tak melanjutkan pembicaraan itu dan langsung masuk di kamar dan aku tidur di kasur yang ada di sebelah mereka berdua dan dengan harapan tak akan terjadi lagi mimpi buruk dan di setan yang mencobaiku.


Tataaran, 28 juli 2014

Ta kage



Baba duduk di kantin fbs tunggu sadiki ba bunyi kamari tu hp, di sms da tulis “ngana suka mo iko deng kami mo pigi di manado? Nanti kami bayar akang nna pe frak! Kalu suka pigi jo di bundaran kong tunggu kami di situ”. So lama baba duduk di bundaran ni herlina, herdi, denk sapna nda da datang-datang, kita pe balia di kanan pa kita ada tu om baba taria “tomohon..tomohon…. tomohon,.. cowo tomohon?” Deng gaya memang, orang Jakarta bilang dekil baju so rabe-rabe, rambu so sawurang kong baba taria tomohon supaya kalu so fol tu oto dia pe sopir mo kase akang doi pa tu tukang ba pangge penumpang itu. Kong ada tu oto satu da ba trung penumpang kong ni om kira dia ja ba muat penumpang kong dia  langsung pigi pa sopir kong dia bilang “pigi jo ngana rupa tu pandang enteng ngana kang? ngana so lia ada oto ja ba tunggu ngana pi ba parkir kasana di sini.” so deng muka gugup tako ni sopir bilang “Cuma da kase turung penumpang kita om… iyo so mo pigi kita..” itu oto pigi deng kecepatan tinggi. Kita pe dalam hati sapa kuat reeng dia pegang kekuasaan, mar kapa ona tu di daeerah pa torang dia pe rasa kuat ja pegang kekuasaan itu so nda talalu banyak, Cuma banyak ja pegang kekuasaan tu orang-orang karu di gedung disana yah dorang bilang mo roba samua tu nda gaga’ di daerah pa kita mar apa?? So mo pelihan ulang nda ada perubahan kamari da beking Cuma tare dorang da kase maso tu perusahan apa ona’ itu kong, ambe kami pe tana yang dia pe dalam kami pe tampa mancari.
Satu jam baba tunggu datang kamari tu herdi,  herlina, denk sapna kong kami nae oto dorang ja bilang taxi gelap di dalam oto ada kita, herdi, sapna, deng herlina denk ada tu 3 om da duduk di blakang. Ini herlina reeng kurang lia-lia tu om dari kaca lantaran tu om da bawa-bawa sabel banyak. Dia pe tako jo masih di tomohon tu oto ni herlina langsung bilang pa sopir kalu dia mo turung jo di tomohon. Pe turung karu tu herlina kami karu’ baku iko turung yah, dia bilang dia tako lantaran di dalam oto ada orang  ja ba bawa barang tajam. Yah terpaksa kami nae oto bus di tomohon.
Pe sampe dii manado kami langsung pigi di IT.  So di IT masih reeng ba udik-udik ni herlina kong dia pe lia ada tu dorang ja bilang escalator dia langsung bagini “dara yesman gaul men tu tangga lift” dia so nae di escalator kita herdi deng sapna sengaja ba jao supaya nda deng kami tu iko-iko malu cma gara-gara dia pe udik itu. Abis itu kita Tanya pa sapna deng herdi “kong trng disini mo datang ba apa”? kong sapna bilang ngana pe mama’ so kase doi pa kita mo kase beli ngana pe perlengkapan ja kulia. Kong trng mo bli apa  ding?? Masih ragu deng ini sapna da bilang ni ading masih ja pikir kapa kong sampe dia pe mama’ ja kase doi pa sapna, mar biar jo. “brapa reeng kita pe mama’ da kase sap”? pokoknya cukup deng tu ngana ja mimpi-mimipi ngana mo dapa bili. Rasa kage langsung datang pa kita, tu kita da mimpi-mimpi so ta kabul mo bli buku-buku yang kita pe keperluan ja kulia.

Satu per satu kita so ja mulai ampe tu buku kita mo bli, akhirnya kita mo dpa samua ini. Kita langsung bilang makase pa sapna lantaran dia so bawa akang tu kita pe mama’ da titip, makase pa mama’ lantaran so kase kabul kita pe keinginan yang so lama skali kita da impi-impikan deng makase banyak for tete’manis so bantu kita lewat kita pe mama’ deng papa’. Kita janji kita mo kase bangga kita pe orang tua.

PILI'



Ini laki-laki di kampung depe hidop tiap malam di captikus, pulang rumah miring-miring kurang sama deng layuk ja ba jalang sapa ba tegor depe ujung mo abis di bakugulung di tana. Skarang dia so 35 tahun kong blum da kaweng-kaweng, moba dekat pa cewe Cuma cewe ja lari akang lantaran tiap kali ba dekat so sangot deng seho tu nafas. Cuma, kalu siang ini Pili’ ni dia jago ba kerja so karna dia pe jago ja ba kerja dia pe badan rupa tu dorang ja bilang atletis kalu orang Tondei ja bilang itu ba spir depe badan. Ba kopra depe kerja hari-hari kong ja nae klapa memang kurang sama deng caca’ ja ka atas mar ja pake sasayo.
Satu waktu dia so mabo kong pigi pasiar pa Hieche, ni Hieche ini keturunan Cina cuma so menetap di Tondei. Ni pili’ pigi pasiar “malam, ada Hieche?”
Badan nda talalu tinggi deng rambu so ja ba bota deng suara sadiki sangker manyau “tabea, ada perlu apa reeng? Meichin pangge Kamari ngana pe kodomo kata napa ada tamu”
Di dalam hati pa Pili’ “kiapa kata ni om ja pangge kodomo’ depe anak pe fasung bagini, cuanu re sia toya’ang teke’?”
Pili’ so nda bacirita banyak soalnya kalu dia mo bacirita banyak so mo semengor tu bobo seho pa om jadi dia Cuma badiam. Akhirnya ini Hieche kaluar deng gaya baju jins ba nda talalu longgar deng kous biasa depe rambu basa-basa kong semengor tu parfum memang dapa lia baru klar mandi.
“kiapa Pili’?” Hieche ba Tanya kong duduk di dekat kursi pa pili’ ja duduk akang.
“nda eh, Cuma kwa mo pangge pa angko kalu suka mob a jalang deng kita soalnya dorang Maxi mo ba kalelon di kantin. Jadi sapa tahu ngana suka mo ba lia”
“haa? Dorang Maxi mo ba kalelon dang? Hiii ta kira deng ngana ja satu klompok deng dorang?”
Pili’ jawab deng biasa-biasa “ada yah deng kita, makanya kita suka da pangge ngana lantaran mo lia kami mo manyanyi.”
Lima menit dorang da ba seri di rumah pa Hieche kong akhirnya dia suka iko deng Pili’ mo pigi ba lia pa dorang mo manyanyi di kantin mo gabung deng dorang Maxi deng tamang-tamang laeng. Di perjalan dorang baseri soalnya 10 menit tu perjalanan ona’ kong baru mo sampe di pa dorang Maxi.
“so pernah bagadang ngana na Hieche? Ehhh kita pe maksud so ada cowo ngana skarang? Ehh.. jangang salah sangka deng kita da ba Tanya bagini pa ngana ni.” Pili’ coba angka cirita di pa dorang pe perjalanan, padahal dia memang ada maksud da ba Tanya bagitu Cuma gengsi kendo’ong.
“kita pe cowo so nda mo dapa rekeng pe banyak kalu mo rekeng dari pertama kali kita bergaul. Cuma kalu skarang, asi ngana tahu kita deng Maxi baru putus” Hieche jawab deng dia pe kepolosan deng dia anggap itu pertanyaan biasa nda ada maksud apa-apa.
Di perjalanan itu banyak skali yang dorang pe cirita sampe nda sadar dorang so tabrenti di muka pa tanta Frida pe rumah kong bacirita di situ, soalnya di muka rumah itu tampa gaga’ ja ba cirita akang deri adapagar beton kong boleh ja duduk akang, apa lagi kalu sama deng cowo deng cewe kong malam bagitu memang nda dapa rasa depe enak kalu nda salah dorang ja bilang itu romantis. Sementara ba seri, rupa wo’ong Pili’ so ja ba stel mo Tanya pa Hieche kong bagini Kamari tu ineng itu
“eh Pili manjo torang so mo lanjut tu perjalanan sana ehh so ja dapa dengar dorang ja ba  kalelon”
Akhirnya dorang lanjut ba jalang. Akhirnya dorang sampe di kantin kong Maxi langsung pangge “ehh alo’ maso jo Kamari rupa kurang tu suara dua kuwa’ neh pas tare ngana so ada mamualim tare cita”
Pili’ so mo maso kong pangge pa Hieche iko maso Cuma rupa dia malu mo lia pa dorang mo manyanyi. Kong dapa dengar suara deri dalam kantin.
“maso jo kwa eh ineng, ko tu rupa kitiare mo minta api”
Hieche pe lia tu suara da ba sambung deri dalam itu Maxi tu da bilang rupa tare da ilang slak tu Hieche mo maso Cuma dia kendo’ong beking biasa. Akhirnya, dorang so sama-sama ja manyanyi lagu-lagu kalelon. Dapa dengar gaga’ skali ja dengar dorang pe lagu lantaran dorang ja pake suara satu, dua, deng tiga. Neh depe lagu kalu orang ja dengar langsung sampe deng dia pe bulu-bulu nyawa ja badiri apa lagi ja lia dorang kalu ja dalami depe lagu.
“ngana suka ona mo manyanyi?” pili’ pe bacirita da mangada pa Hieche.
“e’ kitia suka lagu o ina ni keke. Kela’ang nu na alo” Hieche balas bilang pa Pili.
“oh boleh, kitape lagu kesukaan itu. Manjo dang”
Akhirnya dorang dua manyanyi sama-sama di kantin, pili tuba kroncong deng tu mait taru didekat kroncong kong kalu mo manyanyi musti sedekat di mait dorang pe mulu supaya mo dapa dengar gaga tu suara, kong akhirnya dorang sementara ja manyanyi o ina ni keke dorang pe mata lengkali ja ta baku dapa kong ja baku menghindar kalu ja dapa inga Swedi ja bilang tu bagitu kata tu cinta sama deng mahnet ada depe Tarik menarik deng tolak menolak.
Dapa lia dorang pe manyanyi menghayati skali sampe deng kuntua/ukung tua da dengar dorang ja manyayi kong ba sumbang lima puluh ribu Cuma gara-gara dorang pe manyanyi itu. Padahal biasanya wo’ong rupa pakat ja ba kase sumbangan kalu so di jam-jam stenga spuluh soalnya tu orang-orang so ja mulai tidor. Akhirnya dorang manyanyi ulang tu lagu itu gara-gara ukung tua da minta kase manyanyi ulang. Kong, pe abis manyanyi dorang wo’ong so mo kase brenti tu kantin soalnya so lat mar ada jo ki’ing tu datang ba bawa sratus ribu. Tu da ba bawa itu tu om San kng ba minta lagu kata dorang mo manyanyi tu lagu kalelon ro’ong Tondei. Depe laste tu penyiar kantin ba bilang “adoh kasiang, minta maaf for tu keluarga-keluarga yang so merasa terganggu dengang penyiaran ini lantaran so lat. Cuma tu sumbangan ja bertubi-tubi ja datang ko turupa aer ja lememboy, Cuma memang kitiare so lagu terakhir ini soalnya so lat, ini lagu tu om San da pesan lagu roong Tondei kata, untuk om San deng keluarga slamat ba dengar jo”
Akhirnya lagu penutup dorang samua tuba manyanyi deng Hieche so bergabung manyanyi sama-sama deng dorang.
“roong ami roong
Makangarang Tondei
Roong e camia
Nune’ in talung
Mandeing keleitu palelon e cami
I maka roong
Mande kuntung wong koso’ mento lelon e cami
I maka roong Tondei.
Sapang kasa lean tantu kaereang
Winongos wong tu’tu asal me tutu’
Pros, ulang, pipising, kawok kalo watang menggigi yowan
Agama ya mapanga
Mento ke’ makanganga kerean karu waya”
Akhirnya pe klar dorang manyanyi, tu penyiar langsung berdoa kong dorang so ja ba siap mo pulang kong Maxi so ja ba ser mo antar pa Hieche Cuma Hieche langsung ela pa Pili supaya Maxi nyanda moba cirita deng dia. Lantaran dapa lia tu Maxi rupa masih ada perasaan pa Hieche Cuma so terlanjur Hieche pe perasaan pa Maxi so nyanda ada.
Di jalang ni Pili deng Hieche ja baku-baku puji dorang dua ja manyanyi kong akhirnya.
“kita so ada perasaan pa ngana, biar ngana mo anggap kita mabo Cuma kita sadar skarang angko itu kita sayang. Angko suka jo mo jadi deng kita?”
Ternyata Pili so nda dapa tahang depe perasaan pa Hieche sampe sementara ba jalang kong dia so Tanya. Biasanya to ja Tanya cewe di saat ja duduk santai ato apa ke’. Tu pertanyaan pili da kase pa Hieche nda ada respon da kaluar Cuma sampe di hieche tatawa nda tahu itu tatawa tolak ato apa ona’ yang pasti depe laste Pili nda dapa jawaban apa-apa deng bertepatan waktu itu dorang so dekat rumah kong tu om lagi so tunggu-tunggu di muka pintu gara-gara so sadiki lat jadi tu om pe muka rupa so dapalia muka marah.
“om so mo permisi malam” kalimat terakhir Pili da kase pa om kong dia langsung pulang mar mo pulang reeng di tampa minum. Pe krisis jo dia so rasa Hieche da tolak pa dia akhirnya captikus jadi saksi depe krisis kong ujung-ujung so nda da pulang rumah depe laste kurang da tidor di warong.
Depe besok Pili bangong deng saki kapala gara-gara tepar tadi malam. “nga suka mo ka grontalo na?” itu suara dapa dengar dari muka pintu kamar pa Pili,  dia langsung dapa tahu tu da bicara di muka pintu itu Atu. “brapa orang mo pigi?” Pili ba Tanya deng langsung buka tupintu kamar. Depe buka tu pintu langsung semegor tubobo seho “mateaku re ni tuama mialangum ko kireeng malam. Mar mo pigi jo ngana ato nda?” pa Pili pe pikiran waktu itu dia mo cari tenang deng mo ba menghindar pa Hiemi. “iyo kita mo iko”
“ba siap jo reeng yah tu barangbarang ngana mo bawa dari so jam 9 ini. jam 10 torang mo dapa jemput deng bos pe orang”
Akhirnya Pili pigi di gorontalo mo kerja di tambang, kong di jalang mo kaluar kampong dapa lia banyak skali orang ja kerja jemaat di greja. Dapa lia ada tu so di ujung bangunan yang dorang ja  beking, ada tu ja ba campur spesi di bawa deng laeng-laeng. mar, depe ane banyak tu orang-orang yang mangaku ba tuhan kine mar dorang ja bilang tu orangorang yang masih ja jaga dorang pe ajaran-ajaran orang tua kong jaga pigi-pigi ritual di batu pinabetengan orang-orang kine setang nda bertuhan deng sesat kine dari baba berdoa pa batu. Kong depe aneh sedangkan dorang kalu mo ikodeng dorang pe pikiran bagitu deng dorang semba-semba spesi, krikil, semen, teras deng laeng-laeng soalnya dorang ja pigi di greja yang jadi deri tu barang-barang itu dia. Cuma bukang  bagitu depe seri, dorang pigi di greja for mo pi semba dorang pe tuhan bagitu kiing deng orang ja ba ritual di watu pinabetengan dorang ja ba samba pa opo wananatas bukang tu batu itu. Akhirnya dorang so kaluar kampong deng Pili pe harapan deng dia kaluar dia boleh modapa ketenangan.
Hiece masi ta pikir deng apa tu Pili dabilang tadi malam soal tu dia pe perasaan. Sebenarnya  koreeng dialeh suka mar depe rencana mo  lia dulu Pili kalu memang serius ato nda Cuma depe dapa dengar kalu Pili so ka gorontalo dia pekiran nyanda reeng serius soalnya dia so pigi reona bacari di Taludaah.
So lama nda dengar Pili pekabar, Hiece so rindu soalnya so 2 bulan nda da dapa dengar diape kabar ona’ reeng so kaweng disana kong so menetap disana. Hiece pe rindu memang so nda mo dapa bayangkan sampe dia pigi ba cek pa Pili pe mama deng papa mar dorang kireeng nda tahu kalu mo pulang tempo apa mar dia da bilang pa dia pe mama kalu kata dia mo cari ketenangan. Dari situ Hiece  so ba rasa nda enak dia pe perasaan.
“tarek jo wey” Pili bataria pa Alvan yang ja bajaga di luar. Tulubang yang udorang ja gale memang so dolom kong kiing tu bulu yang ja  ba  tahang depe langit-langit so nda gaga. Lama skali dorang ada di dalam lubang tambang sampe mulai dari gelap sampe gelap ulang dorang nda dapa rasa kalu di dalam goa. Akhirnya datang di waktu trima gaji dorang berbage tu pedapatan, dorang pe kerja berbulan itu ternyata nda sia-sia kong dapa lia skali tu ekspresi dorang pe muka memang nda mo dapa bayang tu senang. “nga mo se apa tu doi ini?” Pili ba Tanya pa Alvan deng muka senang. “kita mo pake ni doi for keperluan kitape  keluarga, kitape anak karu pe baju-baju so nda gaga jalia”.
Alvan bale Tanya pa Pili “Kong ngana mo beking apa? Mar, tahu jo ngana paling kiing Cuma mo abis satu malam di warong kong pagi Kamari kurang kiing mo iko mata. So boleh kitiare ba pikir masa depan soalnya tu angko pe mama deng papa so suka mo lia ngana moba acara torang dua pe umur ngana lebe tua satu taun mar kita lebe da  kaweng kong kita  pe kodomo’ kecil so klas satu sd. So boleh kitiare di masa muda ngana, so talalu puas kitiare” deng senyum Pili jawab tu Alvan da Tanya “hehee… nda usah jo kwa ngana mo khawatir deng  kita pe keadaan bagini,  kita baginikan bukan karna kita suka tu bagini Cuma kita anggap Cuma itu yang beking kita tenang kalu dapa masalah. Hahahaaa.. Cuma nda usah ngana tako,  sebenarnya kita da datang kerja disini bukang Cuma kerja kong abis satu malam di botol. Kita so ja mulai ba forat for kita pe acara yang so nda lama tenang jo  kwa ngana, makanya kiapa kita blum suka mo pulang kampung lantaran so ja mulai ba forat. Xxiix …“
Pili coba   batahang lagi satu bulan di tambang ba  mencari for mo pake kaweng deng harapan tinggi sampe jata bayang padia so ja polo ade kecil dia trus ba gale di lubang.

                                                                   20 Maret 2015

Dapa rasa dia pe doi soboleh mo pake antar harta pa Hieche, akhirnya dia so ba rencana mo pulang kampung sampe satu hari sebelum dia pulang kong dapa saki malaria yang pa depe daerah situ so banyak da dapa. Akhirnya renacana mo pulang kampung ta batal.
So lama baba Hieche baba tunggu sampe dia lia tu Pili pe tamang-tamang yang bajalang sama-sama deng dia so lama di kampung Cuma dia bingo kiapa Pilli nda pulang-pulang. Dia so coba batanya pa Alvan Cuma dia bilang masih kata suka disana. Sudah so nda salah lagi Hieche langsung ba pikir memang reeng so nda ada rencana mo pulang sampe disitu dia so rasa bersalah skali “kiapa kwa kita nda da trima dia tu malam itu, pasti nda jadi bagini kita kalu kita da tanggapi le kit ape perasaan pa dia”
Tabawa deng pikiran manyasal Hieche sampe dapa saki kong bawa di rumah saki. Ternyata dokter priksa dia nda ada saki mar kiapa ona depe panas nda ja turung kong depe badan ja ba suar mar licing skali sama deng minya.  So satu minggu disana nda ada perubahan akhirnya Hieche ba paksa pa diape orang tua supaya antar jo pulang pa dia lantaran dia pikir kurang ja buang-buang doi di rumah saki kong nda ada hasil. Pe sampe dirumah dia pe saki so lebeh parah
“kita  kwa  so bilang pa ngana jangan dulu pulang  ngana so  ba paksa” depe mama bilang  kong deng ja  uru-uru depe testa. Depe puncak tu tenga malam dia anfal sampe so ja mata tinggi kong dorang lia ada ular wai’maso di kamar itu depe papa dusu mo potong tu ular Cuma langsung ba ilang. Akhirnya dorang pigi pangge tu pendeta deng pelsus-pelsus kong kase berdoa Cuma depe   orang tua so pasrah lantaran so rasa saying ja lia pa Hieche so siksa sampe depe mama bilang “srahkan jo e pendeta”. Akhirnya dorang berdoa.
Depe besok ada Pili so di kampung deng harapan tinggi skali biar dapalia lagi masih pucat gara-gara saki. Depe tahu kalu Hieche da saki dia langsung pigi pa Hieche pe ruma kong baku dapa deng dia. Hieche dapa liasenang skali waktu dia baku dapa deng Pili sampe-sampe dia suka pili tu jaga pa dia. Nda tahu da ta slak bagimana kong tu ular itam itu kiing dating lagi depe laste kong Pili langsung bunu. Waktu itu tu Hieche pe mama deng papa so ja ba pikir Hieche pe saki so saki laeng sampe dorang spakat mo pangge jo pa om Yan soalnya tu om itu ada kemampuan ja kase bae tu panyaki-panyaki bagitu. Pas baru mo maso didalam kintal tu om Yan dia langsung dapa rasa ada tu nda beres soalnya sama deng da tumo baba tahang pa dia supaya nda mo trus maso di dalam rumah. Cuma akhirnya om Yan ja dapa kuasai jo sampe dia boleh trus.
“tabea waya, misam re’e se semakit?” om Yan langsung Tanya kalu mana tu dasaki.
“ada di kamar e om” tanta lansung da sambung.
“sebenarnya kita boleh mo dapa kase bae pa Hieche yang penting ngoni percaya pakita kong ja bedoa kasana soalnya bukang kita tu ja kase bae. Tantu katu tu Opo kasuruan Wangko ya. Kita so lia ada reeng tu nda senang pa ngoni sampe dia da bermain akang bagini Cuma dia reeng memang mo ser mo beking siksa pa angko pe anak”
Akhirnya pe klar om Yan da bacirita apa samua tu dorang mo beking dia langsung pigi pa Hieche kong pegang tu tangang. “adoh ada reeng tu laki-laki nda suka mo lia angko mo senang e ineng. Kong ada binatang apa yang ja datang Kamari?”
Kong Pili langsung jawab “ada ular wai da datang disini kong kita da bunung lantaran kita kwa tahu itu setang ja suru-suru”
“ado alo kiapa ngana da bunung dia karu’ nda salah di Itu justru da datang pa ngoni mo kase tahu kalu di sini ada kuasa kegelapan, soada reges lewo’. Jadi eso-eso jangang ja bunung soalnya dorang ja bawa pesan bae ato nda bae for torang”
Sementara di tampa laeng hieche pe mama deng papa so ja kase-kase ambor garam di kintal deng baba berdoa. Di dalam kamar om Yan kase kaluar tu depe perlengkapan mo pake ba uba so ada tawaan, goraka, deng kemenyan deng laeng-laeng. Kong dia so ja mulai berdoa pake cara orang minahasa dulu sampe pe klar itu tu panyaki yang tu Hieche ja rasa sama deng da ilang bagitu kong di itu jam jo dia langsung minta makang. Kong om Yan bilang bagini, “pili co ngana angka tu bolsak dia da tidor akang ini.” Pili pe angka kong ta kage dorang da lia soaalnya ada abu di situ kong pili Tanya kalu apa itu kong om Yan bilang kalu itu abu kubur yang dorang da pake ba jahat pa Hieche. “kita mo bilang pa ngoni tu orang yang da bajahat pa Hieche mo datang sbantar Cuma ngoni jangan pukul pa dia apalagi mo kase mati. Kalu dia so datang Kamari cukup jo ngoni kase maaf dia soalnya dia mo datang bae-bae” itu tu om Yan pe pesan kong dia bilang kalu so mo pigi pulang dari so ada kata kiing ja ba tunggu di rumah.
Sekitaran jam 9 malam kong ad aba toki di pintu muka “malam…. Malam…” Hieche pe papa buka tu pintu kong om  lia tu gaya sama deng buser-buser so pake jeket kuli celana jins pake topi deng nda talalu tinggi. “malam bae, maso.”
“ada perlu apa reeng?”
“kita kwa mo datang minta maaf soalnya so b anyak salah kita di ini keluarga sampe-sampe kasiang so dapa musiba … “ akhirnya penjelasan panjang lebar ni orang so kase depe laste Hieche pe papa bilang “sebelum angko datang Kamari torang so kase maaf neh skaran  angko ba minta maaf pa tete manis soalnya angko so beking saki hati pa dia”
“iyo reeng yah makase banyak eh om. Kita so mo permisi, malam”
Akhirnya Hieche ta bebas dari tu orang jahat yang ja baba ganggu pa dia kong di itu jam jo Pili langsung bilang kalu besok dia modatang bawa depe orang tua kong so mo antar harta pa Hieche.

Selesai.


26 April 2015

MA’WERUNUBAT



Hari ini, kita pe mama’ deng papa da pigi di kiawa dari ada acara keluarga, Kita sandiri tinggal di rumah sandirian nda tahu ba apa, kita ator rumah lantaran so sama deng kapal picah. deng putar lagu metal kita ba bersih di rumah kong abis itu kita langsung pigi di lapangan dari kebetulan kita ta maso di panitia yang da beking kegiatan. Di situ, tu pertandingan memang dapa lia panas dari so maso di putaran ka dua jadi, tu persaingan memang dapa rasa skali di ini hari. Satu kali tu pemain yang di tim satu ba rucipa dia pe lawan kong tu ja ba kase semangat pa tim yang da ta ruju itu nda trima deng  itu kong jadi masalah akhirnya dorang bakalae kong kebetulan itu pertandingan antar kampong. Tu penonton so jadi kacau lantaran ada tu ja ba profokator di situ sampe dorang bakalae, akhirnya tu hangsip-hangsip kase aman dorang kuntua sampe turung tangan da kase aman pa dorang.
“pantasan ini Indonesia nda mo berkembang-berkembang, sedangkan reeng Cuma kegiatan bagini so nda sportif apa lagi di pertandingan besar. Ini ona tu salah satu tu pejabat-pejabat ja kase tunjung kong sampe depe masyarakat bagini.” Kong, kebetulan kita pe mama ta maso di salah satu yang ba pegang jabatan di pemerintah desa, pas di makang malam tadi malam kami baba cirita kong nda tahu da ta bagimana sampe ta angka cirita mengenai pemerintah kong sampe kita pe mama bilang kalu pemerintah di daerah sini ada kegiatan for tu pejabat-pejabat yang sama deng kita pe mama da pegang di desa skarang.
“ehh… tamber da bilang pa mama samua musti mo pigi di singapur dari so di anggarkan torang mo kasana.”
“ada kegiatan apa reeng ma’ dari mo kasana?” kita coba Tanya.”
Kong kita pe mama’ jaab
“Cuma mo jalang-jalang yah…. Memang karu torang pe ibu skrang memang pang bae, taat di agama, rajin pi greja, kong baba bantu karu’ pa masyarakat.”
Kita pe dengar kitape mama pe model ba cirita itu, di dalam hati pa kita ja rasa kasiang deng doraang yang so ja kase beking bodok dorang nda tahu ato pura-pura nda tahu
“ooo rekey aku kengsya sa kelesi’i?”
Pe klar pertandingan bola yang nda ta turus itu, kita langsung pulang rumah kong ba uni televise. nda lama ba uni Lolombulan datang
“nda mo ibdah reeng ngana?” Lolombulan Tanya.
“haaaa? Oh iyo, tunggu dang kita mo baganti.”
Di ibadah ada drama yang dorang kase tunjung mengenai tu Tete Manis pe lahir di kandang kong ada orang majus ja pi bawa persembahan. Kebetulan kwa da merayakan natal to jadi, dorang kase tunjung bagitu. Kong langsung dorang maso di jaman skrang tu natal kata dorang so ja pake di nda butul. Samua tu nda gaga dorang kase tunjung dari so ada bukti memang so lari jao dari makna natal.
Pas pe klar ba hotba somo kase persembahan. sementara lagu manyanyi kong ba kore kamari tu laki-laki da pake jeket kuli, nda talalu tinggi kong pake topi sama deng baret di pramuka.
“ehhh… ngana suka mo iko ka bawa? Dari ada rapat for mo beking kegiatan taun baru?”
Dapa rasa tu da bicara pe suara nda asing pa kitape telinga. Kong kita langsung bale blakang
“ba apa di bawa ka’?” ternyata reeng tu da bicara itu Toar kita pe kaka. Dia nda sampe jawab mo ba apa kong kita langsung pangge pa Lolombulan supaya mo iko deng kami mo ka bawa. Nda rekeng tiga tu motor king deng karisma so kabawa. Pe sampe di tampa kami mo ba cirita akang, Lolombulan tu dimuka kong dia lia ada satu klompok di dalam rumah ja bagate kampion kong kita Tanya pa Toar kalu memang ini tu tampa mo rapat akang dari di kapala pakita kalu mo rapat ada pimpinan rapat kong ada ahhh yang penting di kapala pa kita formal. Kong Toar langsung jawab
“nda salah tampa torang yah, memang kwa disini torang mo rapat akang”
Kita lia tu orang-orang disitu memang so ja miring-miring jaba  seri kong dapa dengar suara dari dalam “ehh maso jo so mo mulai torang”
“Morapat ini ato mo bagate?” di dalam hati pa kita. Yah dorang so pangge kami terpaksa kami maso lantaran ada kegiatan kata mo beking taun baru, kong om satu bilang pa kami taun baru dorang mo angka tu budaya so lama da ilang tu Ma’rantong kata. Kita pe dengar itu kita langsung senang da dengar dari masih ada orang-orang tua ja peduli deng budaya, apalagi budaya di kampong sandiri. Kong satu om bacirita depe  konsep yang mo pake di acara kong beking tim kerja dari tu kegiatan itu ada jo dana mo pake.
“kalu mengenai dana jang tako ada kwa doi nanti kita pe tahu itu” om Ampel bilang.
Baba cirita-babacirita kong sampe di pengenal kata supaya mo dapa tahu sapa yang da beking ini kegiatan musti ada kartu pengenal ato kartu panitia, kong om Ampel langsung bilang “kyapa kwa mo pake-pake baba gitu! Torang ini mo angka tu budaya kalu mo pake bagitu so modern”
Di dalam hati pa kita bilang ada jo kiing dia pe butul tu Om Ampel da bilang. Kong kita bilang “kalu mo beking baju musti pake warna merah dari itu tu identik deng torang pe minahasa” Lolombulan deng Toar bilang iyo dari budaya minahasa yang di kenal banya orang warna merah kong itu memang kita da se lambang waraney ato brani. Pe dengar tu kami da bilang tadi kong om Ampel langsung bilang
“ehhh warna kuning jo dari itu tu gaga”
Om Ampel ona’ reeng nda tahu ato baimana kyapa dia suka warna kuning kong dia so stenga ba paksa musti warna kuning. Kong tu perdebatan warna  nda sampe klar kong dorang langsung sambung deng masalah laeng sampe jam 12 malam tucirita baru klar langsung kita, Toar deng Lolombulan langsung ba bilang pulang dari so lat kong kebetulan kami pe arah mo pulang sama. Pe di muka rumah pa kita Toar bilang ada kata dia mo bilang jadi kami ba singga di muka rumah yang ada pagar beton itu.
“kita so tahu dorang mo pergunakan torang lantaran torang di bagian budaya torang pe kerja.” Toar bilang pa kami.
“kita so curiga dari pertama kali Om Ampel bilang kalu soal dana kata nda perlu tako nanti kata dia urus. Pa kita pe pikiran so lebe kita curiga lagi tu dia da bilang mengenai kaeng kata mo pake supaya sragam musti pake warna kuning. Apa depe sangkut paut minahasa deng kuning? Sedangkan yang seharusnya musti merah” Lolombulan bilang. Kong kita sambung depe cirita ada depe sama deng Lolombulan da bilang kita langsung bilang pa Toar deng Lolombulan “sudah jo kase trus dari mo beking rusak torang pe organisasi kalu mokase trus”
Lolombulan lagi langsung bilang stuju tu kita pe usulan yang da kase itu kurang mo tunggu pa Toar dari dia kami pe Tonaas Wangko. Cuma dia bilang “kalu menurut kita torang jangang mundur. Kalu dorang pergunakan pa torang torang bale pergunakan pa dorang deng ini acara dorang kase pa torang depe konsep jadi nanti kita ator kalu mo bagimana yang pasti torang beking ini acara dapa lia torang yang beking kong sekaligus lagi torang kase kenal  pa dorang torang pe organisasi ini.”
Kita deng Lolombulan ba pikir sadiki, kong akhirnya kami pikir-pikir ada depe butul tu Toar da bilang kong Lolombulan langsung sambung “kalu bagitu reeng torang musti bilang pa tamang-tamang laeng musti pake merah Cuma bukang torang berpihak pa merah. Merah kita pe maksud merah melambangkan torang ini Minahasa” nda rekeng tiga kita deng Toar langsung bilang spakat. Pe klar itu kami so mo pulang tidor. Cuma kita pe pulang rumah kita pe mama deng papa masih da sementara ba uni, Cuma ta pe papa so sadiki ta goyang alias mabo. Sampe kasana kita langsung ambe nasi for mo makang lantaran kita pe biasa ja makang kalu so mo tidor. Trus nda tahu da ta bagimana sampe tu cirita ta sampe di cirita-cirita lama kong kita Tanya pa papa’ kalu pernah iko ma’ weru nubat kebetulan kita baru dengar pa Toar da cirita mengenai itu. Itu kata sama deng pesta cuma so nda ja beking lantaran dorang bilang sesat. Sesat? Kalu kita dengar cirita dari pa Toar justru sama deng kita pe agama ja beking tu perjamuan Cuma kalu ma’ weru nubat ada depe mistis tu jaba pimpin itu ada ja ba dukung akang Cuma beda apa deng di kkr kong orang ja kepenuhan kong ja bahasa roh? Di ma’weru nubat kata jaba dukung tu apo-apo kong jaba pesan tu bagus-bagus kong jaba kase bae orang depe bukti sampe kata di daerah bitung ja datang ba ubah di situ. Deng dulu kata tu jaba pegang wentel musti lapas di muka samua kong meja kong tu pemimpin mo kase berdoa supaya mo bagus-bagus. Kong kalu kata so ada tu ja mulai ba jahat ato ja pake di nda bagus depe wentel mo ciri di meja yang dorang da taru akang. Kalu kata ada tu bagitu tu pemimpin mo bacirta akang sampe dia mo marah lantaran so ja pake di nda bagus.
Kita dengar lagi kita pe papa’ ba cirita memang sama deng Toar ja bilang kong kita pe papa’ ki’ing pernah iko ma’weru nubat ja iko deng kita pe kundu kata dulu deng tamba ki’ing tu jaba pimpin kata dulu satu garis keturunan deng kita deng dorang Toar.
Dengar cirita pa Toar deng papa’ ternyata ada yang memang mo kase ilang tu taradisi bagitu padahal apa tu salah disitu? Skrang kita lia so banya orang ja kurung tu Tuhan di Kristen ato ja kurung tu Tuhan di dalam greja kong bilang tu hal-hal sama deng ma’weru nubat sesat kata. Mar skrang kami pe tujuan mo kase kembang ulang tu ma’weru nubat.

                                               

                                                       04 Januari 2014

KOLANG-KALING


 So satu taun ini glens dorang da kase gara deng tu perempuan di kampung lantaran glens ada tugas di luar kampung ne dia kadang ja pulang kampung. Pas ini glens pulang kampung dia mo pgi ibadh drng ja bilang pemuda gmim. Ini glens aktif di organisasi ini, di ibadah dorang ta kumpul banyak orang laki-laki sekitar 20 orang sedangkan perempuan sekitaran 30 orang. Salah satu dari tu perempuan yang da pigi ibadah ada tu cewe yang glens lia memang sempurna di mata pa dia tinggi sekitar 180cm badan sama deng drng ja bilang gitar hero kuli putih dorang ja bilang sama deng ubi ja kupas, bibir sama deng bunga mawar pe merah, idong same deng tu bule’-bule’, pokoknya di mata pa glens ni perempuan memang sempurna.
Sementara ibadah depe mata nda ja lari pa tu perempuan itu, ini perempuan so ba perasaan pa ini glens “ kyapa ni glens baba haga pa qt? ada ona’ re’eng tu da sala kita da pake”. So dari taun lalu glens pe tamang-tamang mo kase jadi deng glens mar dia blum suka lantaran dia masih ja kuliah kong ni perempuan memang ada perasaan pa ini cliff so lama cma dia karu’gengsi masa’ perempuan yang mo tembak pa laki-laki.
Klar ibadah glens langsung ba dekat pa perempuan itu kong diaba slamat akang lantaran so  jadi kebiasaan di tampa ibadah pa dorang klar ibadah ja baku slamat. Pass glens ba slamat ni perempuan  langsung bagini pa glens ” glens kapa tadi ja ibadah nn haga-haga kita”? ni glens lansung kena sok da dengar tu perempuan itu da Tanya. Di dalam hati pa glens “cuka reeng dia  reeng datarukira tadi kita da haga-haga dia, apa kita mo bilang pa dia ini”? ni glens ta diam sadiki kong dia langsung bilang bagini pa perempuan itu “kita mo bilang pa ngana mar kita mo antar pulang pa ngana, mar kita nda ada motor eta’ yah! Cuma ada DB11! “oh iyo dang” di perjalanan ni glens langsung bilang dia pe maksud mo ba cirita deng  tu perempuan dia ja antar.
“ada kowo’ong kita mo bilang pa nn dari taun lalu mar kita da tahang-tahang lantaran nn ada cowo‘ waktu itu, kita kiing nimau mo ganggu ngoni dua pe urusan. mar, skarang kita so tahu ngana so nda ada cowo neh qt so mo bilaNg COPUS KU KO! BOLEH ANATE ANIO MUNTEP ANG NATE NU”?
“apa depe arti eghh?? Kita blum talalu tahu ja bahasa tontemboan”!?
“Boleh ini hati mo maso pa ngana pe hati”? deng jantung ba duk dak ni glens kase kaluar samua dia pe pe perasaan pa itu perempuan dia yakinkan yang mana dia serius pa perempuan dia da Tanya itu.
“neh bagimana”?
Padahal kiing ni perempuan memang so lama ada persaan pa glens mar gengsi kendoong, deng gaya jual mahal ini perempuan mo beking glens mo penasaran  “kita blum mo jawab ngana pe pertanyaan ini mar kase waktu dulu kita mo ba pikir”. Mar ini glens paksa so mo bliang skarang lantaran alasan so bale pigi di tampa kerja besok. Akhirnya ni perempuan bilang kalu dia so lama kiing da pendam perasaan pe glens.
Jadilah kehendak TUHAN yang mempertemukan sepasang kekasih glens langsung ba slamat pa perempuan yang mana dorang so jadian “makase so trima pa kita” itu kata pertama kaluar pa glens pe mulu pertama kali dorang jadi, nda dapa rasa dorang da ba jalang so dekat reeng pa ni glens pe maitua pe rumah, “santi sampe jo di sini kita mo antar ngana nih! Mana ngana pe nomor hp nanti kita telp ngana. Mar besok kita so mo pigi di nanado, kapan ngana mo pigi kerja di manado”?
“blum ona’ mo kerja kita”!
“ohhw kalu so ada ngana pe nomor ba tlp pa kita neh”! deng muka senyum santi langsung bilang iyo nanti kita ba tlp.
Rasa senang memang iko trus pa glens sampe dia tidor dia pe rasa senang ta bawa-bawa di mimpi. Ayam so ba kukuruyu’ de pe tanda so pagi ni glens langsung ba siap-siap so mo bale di tampa kerja. Deng perasaan senang ni glens berangkat di iringi deng lagu cinta satu malam ni glens so sampe di manado.
dimando glens ada tamang satu kapung deng dia mar nda satu tampa kerja, glens ba curhat yang mana dia so ada cewe yang da trima pa dia tamber langsung Tanya kalu sapa tu perempuan yang dapa kase takluk tu laki-laki yang susah ja tebak.
“sapa dpe nama tu cewe ngana da dapa itu eggh”??
“yah,, satu kampong jo yah deng trng,,.. santi depe nama”
“oh tu santi yang om buk pe anak”?
“iyo”
Ni tamber pe dengar yang da jadi deng glens itu santi yang om buk pe anak ni tamber pe muka langsung dapa lia laeng.
“kapa ngana tamber”?
“nda eghh,, rupa kwa mo saki akang kitya  neh kita dulu mo pigi tidor”
ni glens rasa aneh kapa ini tamber  langsung da beruba dia pe muka waktu dorang bacirita tentang santi.
Di kamar tamber  baba pikir kapa sampe glens jadi deng kita pe maitua biar kityare blum putus mar masih ada status. Tamber nda sangka kalu jadi bagini tamang makang tamang kalo bagini!
Satu minggu berlalu glens yang senang-senang lantaran so dapa maitua, kage-kage so jadi kolang-kaling tu muka so satu minggu ni santi nda kabar yang glens dapa dengar tentang dia. Kira-kira jam 7 malam hari kamis tamber dapa sms kalu yang mana itu santi, rasa senang langsung datang pa tamber pe hati lantaran perempuan yang dia beking kolang –kaling so ba tlp pa dia.
“tamber ngana ini”?
“iyo kita yah ngana reeng so nda dapa kenal kita pe suara”?
“nyanda eghh…. Kita Cuma suka mo pastikan kalu itu ngana. Boleh kita mo mintol pa ngana kirim akang glens pe no hp pa kita! Boleh”????
“Oh iyo nanti kita minta pa glens”
Rasa senang so ta ganti deng rasa ancor pa tamber pe diri… sebelum jadi tu glens deng santi tamber so perna bilang pa glens kalu dia deng santi ja ba gadang. Deng rasa kecewa tamber pigi pa glens, “glens mana kata ngana pe no”
“no apa calana ato”
“kase jo kwa kamari”
“kapa ngana tamber rupa sama deng ba marah pa qt”?
“santi da suru minta ngana pe no hp nanti kata dia mo tlp nn”
“ohh napa”
Pa glens pe pikiran nyanda da senang cma da tamba siksa dia pe lia santi cma da ba tlp pa tamber padahal ada dia pe tamang delli yang satu kos deng glens dia nda da minta pa delli Cuma da minta pa tamber.
Rasa marah glens so nda dapa tahang 3 hariso leawat glens pe hp ba bunyi dia lia nomor baru.
“hallo… sapa ini??? Mo apa”?
“oh.. TUHAN kapa ngana glens”??
“sapa ini eghh…”?
“santi”
“oh kpa santi? Nanti jo ngana ba tlp sabantar neh sibuk kita”.
Rasa penasaran pa santi kapa ni glens so laeng pa dia, ni santi langsung Tanya pa delli kappa tu glens so bagitu? Delli langsung kase cirita samua yang mana cliff rasa aneh yang mana ni santi Cuma da ba tlp pa tember deng alasan mo minta glens pe no hp.
“nimbole kata reen mo minta pa kita tu no? dia merasa ngana masih ada prasaan pa tamber kong sampe ngana ba tlp pa dia”
“oh jadi bagitu dang depe masalah kapa glens so laeng pa kita”!
Kira-kira jam 5 sore glens pe hp ba bunyi. Santi lansung bilang dia pe pokok permsalahan yang mana dia so salah, ni santi terus kase bilang dia pe penjelasan yang mana Cuma ada pa di ape no tamber pe nomor trus dia memang nda ada maksud apa-apa pa tamber.
“memang kita deng tamber nyanda da putus, mar kita so nda da perasaan apa-apa pa dia”
“kita nda marah ngana da ba tlp pa dia cma kita rasa aneh, kappa sampe dia dang”?
Santi trus kase  penjelasan pa glens supaya glens boleh mo terima tu alasan yang santi kase. Akhirnya, glens terima ni santi pe penjelasan Cuma dia masih kurang yakin pa santi mar dia nda kase tunjung yang mana dia blum talalu yakin pa santi Cuma dia berusaha mo pahami ini  santi pe maksud, dan akhirnya glens deng santi baku bae. Setiap pagi, siang, malam glens salau da pa sms perhatian dari santi. Satu minggu berlalu, glens ba cirita pa rendi yang mana dia deng santi pe hubungan nda mo berlangsung lama
“kapa ba gitu glens”? glens cirita yang mana setiap kali dia moba jalin hubungan deng cewe kalu ada dia pe perasaan yang dia da rasa ini mo terjadi, jadi glens pe feling drang 2 nda mo  bertahan lama.
Tanggal 10- September-2012 pukul18.38 wita glens pe hp ba bunyi.
“haloo..”
“glens ada kita mo bilang pa nn! So makang”?
“sudah”
Di dalam hati pa glens “dia so kase putus kita”
“kita mo blang pa nn yang mana torang du aba teman dulu! Kita disini so ada cowo yang ja saying pa kita”
Glens ta ba diam sadiki kong dia bilang kalu dia trima santi da bilang itu di nda paksa kalu santi musti tahang pa glens.. hp mati deng rasa kecewa pa glens memang dapa lia ni glens langsung ba kunci di kamar kong langsung pasang lagu samsons kenangan terindah, repoblik sandiwara cinta.
Rendi pulang dari kmpus dia ba toki pa glens pe pintu kamar dia pe hoba di lubang glens so ja ator tali mo ba gantong, ni rendi langsung dobrak tu pintu kamar kong dia pukul pa glens.
“kapa ngana bagitu Cuma masalah perempuan kong so sampe di ba gantong”?
“kita nda mo jadi se lupa pa dia mar kapa dia beking kita kolang kaling bagini”
Ni glens ba curhat trus pa rendi… rendi deng setia ba dengar  pa glens pe cerita yang mana dia,  perempuan so beking kolang kaling. Banyak masukan maso pa glens pe telinga ni rendi kase akang motifasi yang mana nda bagus cma gara-gara perempuan kong so mo sampe di tali tu hidop.

Akhirnya ini glens sadar yang mana dia da beking selama ini so salah, dia so sayang cewe mar akhirnya Cuma da beking kolang kaling pa dia… bagitu jo dulu dpe cerita kalu ngoni suka depe selanjutnya bayangkan jo ni glens pe hidop kalu bagimana.

ATHEIST

 Tataaran, 6 oktober 2013 (1:53 AM)

Suatu hari di desa Tataaran Tondano tinggalah seorang pria yang dari perantauan sebelah atau dari desa Tumondei. pria yang berperawakan manis, hidung yang mancung dan rambut tidak terlalu panjang, kira-kira mirip Rezky Aditia namun sedikit berbada karena kulit yang sawo matang. Sebut saja namanya Allo. panggilan Allo bukanlah nama yang sebenarnya dari pria tersebut Karena, ada tradisi yang dari turun-temurun di pakai oleh orang Minahasa  dan dari suku Tontemban memakai nama Allo untuk panggilan Laki-laki (panggilan sayang-sayang) dan untuk perempuan mereka menggunakan nama Ineng. Nama Allo sebenarnya adalah Eping namun, karena mereka menghormati budaya. mereka tetap menjaga budaya mereka dengan cara yang salah satunya ini. agar tidak hilang atau bahkan di klaim orang luar bahwa itu adalah budaya mereka.
            Singkat cerita Allo adalah Mahasiswa yang menimba ilmu di salah satu Universitas yang tempatnya berada di desa Tataaran. Saat ini Allo sudah berada di tingkat lima atau semester lima  dan dia mengambil jurusan pendidikan kewarga negaraan atau yang biasa meraka sebut PKN. Allo terkenal jarang pulang kampung karena dia berpikir perjalanan yang jauh dan membutuhkan uang yang lumayan banyak untuk dia yang adalah mahasiswa. Berbada dengan teman-temannya yang sekampung dengan dia yang hampir setiap minggu ada yang pulang. Dan disitulah selalu Allo mengambil  kesempatan untuk meminta bantuan agar supaya menyampaikan pesanannya dan berharap mendapat balasan yang memuaskan. Terkadang ada yang membuat Allo merasa kesal ketika dia menitip pesanan untuk di sampaikan kepada orang tuanya namun tidak tersampaikan, mereka kembali dengan mengatakan bahwa mereka lupa menyampaikan ataupun dengan sengaja mereka tidak menyampaikan pesanan. Namun Allo selalu tidak mengambil hati dengan masalah itu karena dia juga hanya meminta bantuan. Maka dari itu banyak kali dia menahan lapar karena sudah tidak punya apa-apa lagi. Sering kali dia selalu membuang jauh rasa malunya kepada teman-teman yang di kenalnya untuk meminta makanan untuk di makan dan seringkali dia sedikit menanggung malu karena, ada teman yang bertanya “kyapa ngana kurang baba jalang cari-cari makang e? sama deng nda tahu malu” ungkapan yang keluar dari temannya tersebut hanya bercanda namun, dia merasa itu adalah sindiran terhadapnya yang selalu mencari makanan.
            Suatu hari karena dia selalu terpikir dengan kata-kata yang di keluarkan salah satu teman sekampungnya, dia berinisiatif  untuk tidak lagi mendekati mereka selain tujuan mencari makanan. Hidup Allo ketika selesai kuliah dia langsung pulang jika tidak ada agenda lain yang organisasinya buat. Di tempat kosnya Allo ada beberapa sahabat yang lebih senior darinya selalu berdiskusi mengenai filsafat dan mereka selalu mengangkat topik yang pada ujungnya terdapat kesimpulan yang berbeda dari harapan mereka. Misalnya ketika mereka berdiskusi mengenai agama yang saat ini sudah tidak berjalan lagi sebagaimana mestinya karena mereka melihat peran gereja sudah tidak mengajarkan pesan ataupun perjalanan Yesus ketika dia menjadi manusia. Mereka berpendapat bahwa gereja saat ini sudah menjadi sarang penyamun seperti yang Yesus katakan. Mereka mengambil contoh gereja yang berada di kampung asal mereka yang saat ini sementara membangun gedung gereja. Hal apapun mereka lakukan meskipun itu sudah bertentangan dengan ajaran yang  Tuhan mereka ajarkan bahwa jangan pernah menjadikan rumah Doa sebagai sarang penyamun. Demi mempercepat pembangunan gereja mereka, orang-orang yang berada dalam lingkaran setan tersebut sudah tidak menghiraukan bahwa yang mereka lalukan sudah salah atau mungkin mereka yang sengaja perpura-pura tidak tahu. Gereja di desa mereka mendapat bantuan oleh salah satu perusahan rokok yang terkenal dan mereka mendapat tugas untuk menjual rokok tersebut untuk mendapatkan imbalan yang di janjikan perusahan tersebut. Anehhnya, ketika hari minggu yang adalah tradisi orang Kristen protestan untuk beribadah mereka mendapati di sekeliling gereja sudah berkibar dengan megahnya bendera dari rokok tersebut dengan poster-poster yang sudah mengelilingi gereja tersebut, anehnya orang-orang yang datang beribadah tidak mengiraukan itu seakan-akan tidak terjadi apa-apa.
            Ketika, ibadah selesai ada tradisi selesai beribadah harus saling berjabat tangan tanda bahwa mereka mendapat berkat dari Tuhan. dan mereka melihat semua yang berjabat tangan dengan pemimpin ibadah memegang uang dan langsung menyerahkan dengan cara berjabat tangan. Sungguh hal yang sangat sulit di percaya. Mereka berpikir begaimana dengan orang-orang yang ingin beribadah namun tidak mempunyai uang untuk di berikan kepada pemimpin yang dengan dada kedepan naik di atas mimbar berbicara kepada jemaat bahwa untuk dapat masuk di kerajaan surga adalah percaya percaya dan percaya. Sementara perjalananYesus sewaktu dia menjadi manusia di abaikan dan dengan lantang mengatakan berilah perpulahan! jemaatnya tidak tahu uang perpuluhan itu hanya masuk di kantung para petinggi-petinggi gereja. Mereka berpendapat bahwa “yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin dan di bodohi oleh berbagai kata-kata bijak yang sengaja di ambil dari ayat Alkitab untuk menipu”.
            Dari salah satu diskusi di atas mereka terus mencari kebenaran yang dinilai oleh mereka dapat menguntungkan dan dapat terlihat peran gereja yang sesungguhnya. Setelah selesai berdiskusi ada hal yang sangat sulit di hilangan Allo bahkan sudah sampai kecanduan yaitu online yang setiap harinya dia selalu memperbarui statusnya di facebook. Setiap kali dia melakukan pembaruan status dia selalu mengkritik mengenai Agama yang di percayainya karena sejauh pemahaman mereka Agama sudah menjadi salah satu barang yang di jual oleh para petinggi-petingginya.
            Tak di sadari oleh Allo, setiap kali dia mengkritik lewat akun facebooknya, tulisannya selalu di baca oleh salah satu petinggi gereja di kampungnya dan karena Allo sudah teropsesi dengan filmyang di nontonnya yaitu film Dark Shadow yang pemeran utamanya Johnny Deep di film itu menceritakan bagaimana sisi gelap dari manusia yang saling memangsa seperti vampire. Allo selalu memasukan foto-foto karakter vampire yang di perankan di film tersebut, dan saking teropsesinya dia meminta salah satu temannya untuk membuat mack up seperti karakter dalam film tersebut dan langsung di ubload di facebook.
            Seminggu berlalu dan tiba-tiba Allo mendapat telpon dari orang tuanya dengan nada yang keras mengatakan “kyapa kata ngana baba tulis di fesbuk tu nda waarwaar na anak? Dorang ja bilang ngana so jadi ateis! Iko-iko deng tu orang so nda percaya Tuhan”! mendengar kata-kata tersebut Allo terkejut dan mungkin karena pulsa yang habbis atau gangguan yang terjadi sehinga dia tidak sempat merespon kembali pertanyaan dari ibunya. Seperti biasa ketika Allo pulang kos dia langsung cepat-cepat membuka facebook dan tiga pemberitahuan, satu permintaan pertemanan yang tidak di tanggapi oleh Allo karena dia melihat tidak ada penjelasan tentang orang yang meminta pertmenan tersebut. Ketiika Allo mengarahkan kursor ke-pemberitahuan dia mendapati dua pemberitahuan bahwa statusnya di sukai dan yang satu lagi Ineng mengirim sesuatu di kronologinya. Dengan cepat dia membuka pesan tersebut dan dia membacanya dalam hati kiriman dari Ineng “Allo, lebe bae torang dua suda jo ba tamang. Dari, kita ja dengar dari guru-guru tu satu skolah deng kita, ja bilang pa ngana pe mama di ruangan guru ngana so nda percaya Tuhan kong kita ja kase blajar ngana supaya mo jadi ateis”. Membaca tulisan tersebut Allo tiba-tiba kaget dan sudah tidak tahu harus menjawab apa dari kiriman yang di berikan Ineng. Tapi, dia yakin Ineng tidak mungkin menjauhinya. Allo teringat saat berada di kampung Allo, Ineng dan beberapa teman lainnya pergi ke salah satu tempat bersejarah/peninggalan di desa mereka dan mereka mengadakan ibadah dalam ritual/ibadah tapi bentuknya mengggunakan bahasa Tontemboan. Dalam perjalan menuju ketempat tersebut Allo dan kawan-kawan langsung di kagetkan dengan teriakan “heee… anak-anak setang mo ba pa disana ngoni? So setang ngoni!” mendengar hal tersebut Allo dan kawan-kawan tidak mengiraukan teriakan tersebut dan langsung menuju ketempat tujuan mereka. Dan setelah selesai Allo, Ineng, dan kawan-kawan lainnya langsung mengarah kerumah seorang yang meneriaki mereka dan langsung menjelaskan bahwa tujuan mereka kesana bukan untuk menyembah tempat itu tapi, karena tempat itu mempunyai sejarah yang mana itu adalah bukti dimana pernah ada manusia yang tinggal disana sebelum ada mereka, dan mereka kesana agar supaya peningalan dalam bentuk artefak tidak akan di lupakan. Ineng memberikan pertanyaan kepada  orang tersebut “apa beda orang pigi di kubur stiap kali pergantian taun deng kami da pigi disitu”? ibu itu terdiam dan dari raut wajah ibu itu Allo melihat  ibu itu sudah memahami namun masih meresa gengsi untuk mengakui kesalahannya. Namun, mereka percaya bahwa usaha untuk menyadarkan masyarakat untuk cinta akan budaya tidak langsung di tekan ibarat membantingkan ster motor sesuka hati. Seketika Allo langsung matikan facebooknya dan berpikir kenapa mereka tanpa berpikir panjang langsung menjudge dia ateis.
            Selang beberapa hari Allo kembali bertanya  kepada Ineng namun, sudah tidak lewat FB lagi tetapi, sudah lewat via tlp dan dia bertanya mengenai masalah yang sudah di katakan Ineng beberapa hari yang lalu dan dia mengatakan bahwa dia sudah memberikan penjelasan kepada ibu Allo mengenai masalahnya karena kebetulan Ineng dan ibunya satu sekolah dan ibunya memahaminya. mengenai teman-teman Ineng yang mengatakan  hal yang tanpa di kaji lebih dalam sudah di simpulkan Ineng mengatakan “mungkin mereka tidak membaca Amsal 1:7” dan mendengar hal tersebut Allo dengan tertawa kecilnya sambil mengatakan “iyo kang” dalam hati Allo bertanya kira-kira Amsal 1;7 itu apa isinya? Allo pun cepat-cepat membuka Alkitab dan membacanya “Takut akan Tuhan permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan”.