Laman

Minggu, 03 September 2017

PRIA GILA

O pria gila, aku merindukan karyamu!

Bagaimana mungkin kau tahu jiwa itu akan kembali pada tempatnya semula? sesungguhnya kau mendaur semua dan tak tersisa bahkan dirimu tak kau ingat.

Sekian lama para perindu itu mendalami dunia nihilmu namun, kau justru memenjarakan diri dalam goa. Kematianmu diperbincangkan bahkan sampai dekade ini dunia kini mengenalmu dengan murid para binatang liar.

Tahukah kau dimasa ini, dunia semakin jauh dari yang kau bayangkan? mereka bekerja dengan penguasa hutan. mereka menerjang tapal yang kau beri tanda untuk tak disetuh.

Andai kematianmu setahun lagi, mungkin kau akan menyeret mereka dalam goa dan mengajarkan kebajikan di tengah kegelapan supaya badut itu tak menunjukan akrobatnya berjalan di atas tali yang akan membunuh mereka dengan pujian.

UNTUK SON

Son,
Bagaimana menurutmu jika akhirnya perang ini masih berlanjut? katanya, kekuatan terbesar adalah cinta. Bukannkah cinta juga ada kuasanya sendiri? bagaimana jika dia menggunakan kuasanya dan mereka terjebak dalam kenikmatannya?

Son,
Tahukah kau jika mencoba mencelupkan diri pada kuasanya? sedikitpun kau tak ku anggap lagi saudara. Nyatanya kau mulai meliriknya atau mungkin kau telah bercumbu dengannya sampai pagi?

Son,
Ya kupahami jika libido manusia memuncak, siapapun bisa hanyut dalamnya. kau ingat kendaraan yang kau tumpangi ketika para layang mencoba memburumu? kau malah sibuk menciptakan keturunan.

Son,
Aku tak mau lagi bercerita lebih tentang kerakusanmu pada cinta. tak ada kedamaian pun jika kau mencoba bersamanya. sungguh Son, tapi tak ada larangan untuk itu. siapapun berhak menikmatinya. perbanyaklah keturunan selagi spermatozoid-mu berproduksi.

Son,
Jangan lagi kembali jika disuatu senja kau mengemis maaf pada sang rindu. bagiku itu bukan sadarmu melainkan kebodohanmu yang berharap untuk diterima kembali.

Rabu, 26 Juli 2017

AKU DAN SI JUBAH HITAM


Ekspedisi gunung lolombulan bersama Sanggar Tumondei 2013

Panggil aku Lolombulan. Nama ini diberikan padaku kerena kehidupanku berada di kaki gunung Lolombulan desa yang diapit oleh dua gunung yang melambangkan surga bagi desaku yang penuh dengan limpah. Sehari-hari aktivitasku memenjarakan diri dalam kamar membuat sesuatu yang tak berfaedah, mulai dari rokok, alcohol, narkoba, bahkan kamarku dibuat terlihat seperti club malam yang disinggahi para manusia yang puncak libido berada diatas rata-rata. Yah wajar saja hidup ini seorang diri dan memerlukan penjara setan demi kenikmatan. Hmmm … mungkin saja ini kenikmatan setan karena tuhan pun tak mendengar kelukesahku seumpama dunia menikam rasa keheningan pun tetap dia menghiraukanku.
Selanjutnya ketololanku mengiayakan setiap minggunya harus ke gereja mendengar kebohongan mimbar yang sendirinyapun melakukan hal sinting.

“Dunia ini penuh dengan ketamakan lihat saja jemaat kita semakin sedikit yang beribadah namun setiap malamnya warung-warung penuh dengan kumpulan setan yang merasuk diri setiap kita. Katakan amin saudaraku! Tuhan mengasihi kita yang masih setia sampai saat ini berada dirumah-Nya” ucap seorang yang berdiri megah dengan wibawa di atas mimbar.

Smokol tadi rasanya ingin keluar semua dari usus yang sementara beroprasi atau mungkin kubiarkan dia menjadi tai dan masuk di toilet beserta ucapan-ucapannya. Anehnya diri ini tetap ikut setiap minggunya diperkumpulan ini atau mungkin demi pencitraan semata seolah terlihat sebagai manusia penuh roh kudus.

“jangan biarkan para sahabat-sahabat kita terperangkap dalam lumbung yang tak dapat lagi diselamatkan jika mereka sendirian. Marilah saudaraku kita bawa mereka ke rumah tuhan dengan membuat cinta dan kasih sebagai dasar iman percaya kita untuk menghadap yang maha kuasa. Sesungguhnya tuhan tidak akan tinggal diam dalam kerjamu” sebut seorang yang berdiri megah diatas mimbar.
Seusainya, kebiasaan saling bersalaman sebelum pulang dan kebetulan uangku habis. Kini lima orang didepanku akan bersalaman dengan si pria dengan jubah hitam yang dikenakannya. Terdengar olehku setiap salaman selalu ada kata “puji tuhan, makase neh” seorang berikut “puji tuhan, makase neh” berikutnya pun tetap demikian ucapan yang sama tetap keluar dari si jubah hitam. Kini giliranku dengan tangan kosong menggenggam tangan si jubah dan “berkat tuhan mari hitunglah. Jangan stenga-stenga untuk hamba tuhan saudaraku” ucapannya senyum tapi tetap itu adalah sindiran untukku karena tangan kosong menggenggam tangannya.
Menjadi kebiasaan saya dan beberapa teman setiap hari minggu menuju Manado. Butuh waktu 3 jam dari desaku untuk mendapatkan kota yang penuh dengan sampah malam. Biarku sebut itu sampah malam karena setiapnya kutemukan para wanita-wanita desa datang melacur demi menghendaki diri mendapatkan pakaian ala korea, kosmetik yang berlabel internasional. Haaa … biarkan saja diriku pun tetap demikian penuh dengan kemabukan. Setibanya kami langung mencari bar ternama untuk memenuhi hasrat kekinian manusia rakus. Aku rakus bagaimana mungkin kubiarkan nafsuku sendiri tanpa ada pelampiasan. Sesungguhnya para manusia yang berada di gereja tadi pun demikian. Dan harus dibanggakan nafsu yang diberikanNya ini.

“wey Lolombulan co nga lia kwa tu sana. Apa ona’ itu e tu tanta lolombulan?” ucap seorang dari kami.

“wey iyo reeng nge Lolombulan sana e. Pelayan di greja ona’ tu tanta itu e?” sambung yang lain dengan penuh keheranan.

Ekspedisi gunung lolombulan bersama Sanggar Tumondei 2013
Ha … bagiku biarkan saja dia lantaran siapapun berhak mengunjungi tempat ini. sesungguhnya tempat ini bagian dari ciptaan para penindas untuk memuaskan karunia pencipta. Yang aneh saat kucoba palingkan empat puluh derajat leher yang kelelahan ini kutemui si jubah hitam tadi berada disampingnya pikir awalku dia bersama suaminya ternyata bukan demikian. Kedua bibir itu kini terlihat menunjukan posisi siap menyambar. Yahh hitungan ketigaku belum selesai nampak senjata tak bertulang saling berguling di bawah lampu diskotik beserta music remix yang menggema. Sedikitnya mata ini tak mau berkedip gaya eropa itu begitu liar berperang satu dengan yang lainnya mempertontokan sedikitnya ratusan pengunjung tempat ini.

“adoh setang tu tanta sana so bahugel ona e? di pilar (perkebunan) ona’ tu Alo ja ba captikus akang nge. Kita tahu dia ja tinggal di pilar. Njo torang pukul jo tu laki-laki setang sana kong torang se malu tu tanta ityu” ucap Lo’or dengan wajah geram yang siap menerjang tabrakan liar disana.
“biar jo nanti kita jo tu ba dekat pa dorang. Mota kage dorang kalu mo lia torang da lia dia” sambungku untuk menjauhkan kekacauan. Lo’or dikenal di desaku adalah pria yang pencari keributan padahal setelah kucoba bergaul dengannya justru pikiran liarku terhadapnya salah. Emosi saja yang tak bisa dikontrol olehnya apalagi bersama dengan teman lain yang memanfaatkan dirinya.
“Malam bae Pendeta ucapku disamping mereka yang asik berfantasi dengan kenikmatan. Mendengar suara yang keluar tadi sontak kenikmatan dari tabrakan liar bibir yang ta lem terpisah. Wajah yang geram berpaling menghadapku soalah merasa aku adalah Polisi yang siap menilang wanitanya karena tak mempunyai SIM. Cahaya remang membuat si jubah tak mengenaliku bahkan seolah felungku kiri siap menancap pipi kiri laki-laki sepi ini.

“kiapa mo apa? Kita so klar ba pesan dang tadi” pikir si jubah aku adalah seorang pelayan di tempat itu. Wanita disamping si jubah mengarahkan wajahnya memerah dan kaget penuh ketakutan tergambar pada ekspresi.

“eh ada reeng Lolombulan disini. Sapa-sapa ngoni? Napa kwa tanta deng pendeta ada kunjungan orang saki tadi mar lantaran so lapar neh da cari makang tre dulu ya. So lama ngoni da datang? Napa e Pendeta kita pe pemuda pembangunan di kampung. Dia nda rupa depe tamang-tamang laeng. Dia rajin ibadah deng memang ja ba topang pa torang pe greja karu’ dia”cakap tanta dengan muka yang kaku penuh ketakutan karena dipergoki jiwa yang melayang.

Si jubah langsung menyambung saat teringat wajah yang tak memberikan apa-apa kala berjabat tangan tadi di gereja.


 “ih ngana reeng tu tadi di greja ce? Iyo kita so inga. Eh mar torang pe perjuangan musti tarek ulang tu domba-domba yang hilang supaya torang pe greja lebe rame deng upahmu tidak akan sia-sia” sebut si jubah hitam.
Dapat kupastikan kedua orang ini ketakutan dan berusaha membuat suasana tetap tenang padahal ketakutan itu tak dapat disembunyikan dari raut wajah dusta itu.
“sana e kita deng tamang-tamang kampung da datang so dari tadi ya. Lantaran kwa Lo’or da lia pa tanta tadi neh kurang kiing da ta kage kita da lia tanta reeng ja ba pasiar kamari. Nda karu’ apa-apa ya ja datang makang di tampa bagini biar nda ja dapa lia bae-bae tu makanan yang penting sedap ce?” jelasku pada setiap pertanyaan yang dihentarkan tanta.
Ketakutan tak bisa dihindarkan si pelayan greja. Sungguh ini adalah kritikanku terhadap para manusia yang merasa diri dekat dengan Tuhan. Sudihkah aku yang cemar kini akan bersama para perindu surga? Oh tidak ini gila. Si pelayan pun melakukan yang demikian bahkan mainan lidah si jubah hitam begitu agresif.
Begitu ku kembali ke tempat teman-teman, si jubah hitam dan pelayan greja itu meninggalkan tempat mereka. Bukan soal siapa kau tetapi ketamakan manusia tidak diukur dengan seberapa besar kedekatannya dengan Tuhan. Akhirnya kini kutahu setan itu tidak busuk, setan itu tidak bau, setan itu tidak bertandu seperti yang dikatakan pendeta yang berkhotbah di media sosial. Setan itu harum, setan itu di gereja, setan itu rapih.





Jumat, 30 Juni 2017

SEJUTA CINTA UNTUK KELABAT





Saat Berada di Pos II
Perjalanan hari ini adalah menggapai puncak yang tertinggi di Sulawesi utara. Segala macam persiapan sudah dibuat malam sebelum keberangkatan. Kamis, 29 Maret 2014 perjalan dimulai dari Tataaran menuju Air Madidi, tempat dimana kami akan memulai langka kaki yang tak mengenal lelah. Saya dan beberapa teman sanggar tumondei minahasa selatan saat tiba di Air Madidi langusung disapa oleh hujan lebat yang berangsur redah saat kami melapor di kepolisian bahwa kami akan melaksanan pendakian selama kurang lebih tiga hari.
            Setelah perjalanan dimulai, kami salah melewati jalur dan akhirnya kami tiba di puncak Kaki Dian. Kaki Dian adalah Salah satu lokasi Wisata Religi yang ada di Minahasa Utara dengan ketinggian menara mencapai 19 meter. Berberbentuk Kaki Dian dengan 7 cabang lampu di ujung menara yang dilengkapi oleh fasilitas listrik tenaga surya sehingga dapat menyalakan 7 lampu pada ujung menara kaki dian. Bagian kaki menara berukuran 8 x 8 meter dan berada di atas ketinggian 620 meter dari permukaan laut yang terletak di salah satu bagian perbukitan Gunung Klabat. Objek wisata religius ini pun disebut-sebut sebagai menara Kaki Dian terbesar dan tertinggi di dunia.
Kepompong :D
            Kembali kami menurun bukit mencari jalan yang benar yang menghantarkan kami ke gunung gunung Klabat yang merupakan puncakyang  ketinggiannya mencapai sekitar 2100 meter. Gunung ini oleh masyarakat Tonsea (Minahasa Utara) disebut juga Gunung Tamporok. Gunung ini merupakan objek wisata alam dan dapat ditelusuri mulai dari Airmadidi (Ibu Kota Kabupaten Minahasa Utara). Gunung ini merupakan gunung api yang tidak aktif lagi. Puncak Gunung Klabat ini mempunyai kepundan berbentuk danau kecil dengan air yang sangat jernih. Mendaki gunung klabat melalui daerah air madidi ditempuh sekitar 8 jam perjalanan.
            Setelah kami menemukan jalur yang akan dilalui benar, hujan deran menemani langkah kaki yang lelah saat jam menunjukan 17.00 pm, kami memutuskan perjalanan dihentikan dan bermalam di pos dua. Membutuhkan 120 menit untuk sampai di pos dua. Carrier yang berada di pundakku kini tak lagi kering dan semua barang yang ada didalam basah, mulai dari pakaian, beras, dan lain-lain. Sementara hujan belum memberikan tanda untuk redah, kamipun sesegera mungkin mendirikan tenda yang terpal yang berukuruan 2x3. Bagiku disinilah ajal akan menjemputku, mati dalam perjalanan bunuh diri ini. Mengapa tidak apapun yang ada di badan semuanya basah dan rasanya ingin membeku. Kayu yang basah membuat api yang kami buat seolah tak mau menghangatkan badan yang hampir beku ini.
Hutan Kelabat
            Tidur yang tak nyenyak ini, akhirnya terbangun dengan kedinginan yang menggila saat jam menunjukan 03.00 am keputusanku untuk keluar dan sebelumnya ada juga teman yang sudah lebih dulu keluar memaksa menghidupkan api. Setelahnya saat mentari malu-malu menapakan diri, semua kami sudah terbangun dan bersiap melanjutkan perjalan namun, sebelumnya kami smokol (sarapan).
            Masih ada 4 pos yang akan kami lalui untuk menggapai puncak yang meraka sebut sebagai surga diatas awan Sulawesi utara. Membutuhkan 30 menit untuk mencapai pos 3 maupun pos 4 di pos itu kami melewati tangga helikopter (biasa disebut oleh para pendaki). Dibenakku bertanya-tanya seperti apa tangga helikopter ini saat melewatinya, ternyata tangga heli kopter adalah medan yang ssulit yang harus dilalui lantaran kaki dan tangan harus digunakan dengan hati-hati jika tidak akan menimbulkan masalah tetapi yang membingungkanku, kenpa mereka menyebutnya tangga helicopter.
Puncak Kelabat
            Setelah tiba di pos 5 kuputuskan untuk beristirahat sementara beberapa teman sudah melanjutkan perjalan. Antara pos 5 dan pos 6 saya dipertemukan dengan yaki yang bergantungan sendirian di pohon besar. Keindahan ini jarang ditemui oleh pendaki gunung kelabat. Setelah sampai di pos 6. Pos 6 adalah pos perhentian dan tempat para pendaki membangun tenda karena puncak kelabat 100 meter lagi sudah sampai. Kami tak menemukan tempat untuk membangun tenda lantran tempat-tempat disitu sudah full oleh para pendaki lain. Keputusan kami adalah menginap di puncak yang dinginnya menusuk hidung ini.

Jufri, Chaves, Glen, Riski, Charly, Rianto, Della, Yanli
            Akhirnya kami sampai di gunung yang terlihat jelas dari arah Manado d Tondano ini.  Kelelahan kami terbayarkan oleh keindahan ciptaan Tuhan ini. Demikian perjalanan klabat. Klabat diambil dari bahasa Minahasa "Kalawat" dialek Tonsea "Kalabat". Kalawat adalah nama dari sejenis satwa lokal yang juga disebut babirusa. Kata ini disebutkan oleh para pelaut Portugis "Calabets" sebagai nama gunung di pulau sulawesi, dari kata ini dinamakan sebagai nama pulau yang kemudian Calabes jadi Calabes = Celebes yang menjadi Sulawesi akhirnya kata ini menjadi nama pulau Sulawesi. Baca sejarah Sulawesi oleh David DS Lumoindong.

Sabtu, 03 Juni 2017

ABSURD

Menentang waktu di tengah keriangan masal
Saat mementaskan Pseudo Chrismast
Menampakan kesombongan masal saling membodohi diri
Aku terperangkap dalam medan itu dan begitu indah menurutku.
Aku mendapat kecupan malam itu
Mungkin saja ini bentuk keseriusannya atau dia mengikuti cara Yudas di dalam kisah Yesus

Kebimbanganku sampai saat ini masih menempel di ayunan kehidupan
Masihkah dengan keraguan ini dapat memboyongku pada ketidak raguan!?
Air ini masih kabur dan semakin sulit bagiku untuk kuminum.
Mungkin dia dapat jernih disaatku mati dalam kehausan.

Seribu keyakinan bagiku mendapat air yang memang jernih sebelumnya
Tetapi air itu berhenti mengalir saat kucoba menimbanya.

15 maret 2015

Barangkali ini hanya euphoria yang membanggakanku
Di malam ini dengan sejuta kesombongan di depan melati.
Hal yang harus kulakukan malam ini dengan mempertimbangkan
Perdamaian diujung kelopak melati itu
Dan berbahagialah kalian wahai murid yang murtad di pangkal sari melati.
Ternyata kalian paham keadaan itu.
Kembali keributan menjulang di tengah malam ini.

Beberapa dari kami adalah salah satu pembuat keributan yang berasal
Dari satu tarikan yang mempertontonkan kebanggaan masing-masing

16 Januari 2015

BUKIT DOSA

Kerinduan menutup diri sementara kongkongriang bersuara
Malam ini menyiratkan akan datang kekejaman rindu yang meluap
Atau mungkin ini hanya sebaliknya.
Aku meyakini ini masih sulit untuk ku tebak
sebab penglihatanku kabur
sebab peganganku tak mampu membuktikannya.

Warna-warna di depanku, semuanya menyambut kepeercayaanku dengan meluap
Pun dia bisu diam tak berbunyi.
Aku percaya naik turunnya capaian yang di sampaikan mesin ini adalah
Untuk membodohi kesejahteraan banyak orang.
Sungguh ini sangat sulit kutebak perjalanan dimensi ini.

Rasanya aku ingin kedimensi Toar dan Lumimuut
Bercengkrama dengan mereka dan merasakan perdamaian dengan alam,
Bermain dengan alam serta makan bersama alam.
Saat ini, tempat yang penuh dengan kotoran sudah  bermusuhan dengan alam
Tak satupun dari mereka memikirkan perdamaian dengan alam.
Yang dipikiran hanyalah keuntungan yang mengatasnamakan gunung dan bukit.

Sinting!
Mengatas namakan alam tapi membunuh banyak orang.
Pembabatan itu katanya akan membuat bukit doa.
Bukit dimana banyak orang akan datang dan akan
membawa hasil untuk kesejahteraan banyak orang.
Hancurnya kekinian adalah seperti bukit doa yang yang berubah menjadi bukit dosa.
Alampun tak mau bersahabat denganmu jika dalam keseriusanmu tidak serius.

16 januari 2015
Catatan bunuh diri  III

kegagalan Sinyo hari ini berdampak dalam
kesadarannnya sebagai makhluk tak berdaging.
pemburuannya mengingatkan Siki yang sulit di lupakannya.

pagi sampai pagi kemudian bayangan itu terus menempel sesukanya
pun disaat ingin mengeluarkan racun sekalipun taring tak mampu menusuk daging lain
sulit melepaskan hal yang bukan miliknya.

rasanya mengahiri hidup semakin menempel disaat kedamaian
tak lagi dekat seperti masa kecil
masa dimana dipenuhi dengan kesayangan pembangkang yang dulu selalu membandingkan kemampanan  sinting.

lupakann semuanya! tak  ada yang perlu di banggakan dalam simulasi ini.
9  juni 2015

Catatan bunuh diri II

Barangkali malam  ini ingin meminang pagi sepi
Sepercik pancaran embun menetes perlahan.

Sssshh ...
Ah ini mempesona malam mini ini.
Sedikit lagi pancaran cahaya menguning
Menyinari menghangatkan  tumbuhan.

Sekonyong-konyong para kelelawar kembali ke goa, menunggu kegelapan.
Hari ini waktu bagi para pekerja sia-sia mencari makan demi kematiannya.
Hari  dimana serpihan atom mencari berusaha mencari ketenangan.
Hari dimana kecerobohan makna memerangi pasukan  semut.

Apalah arti  cahaya yang menguning ini bila kemenangan tak mendapatkan kemenangan?
Yang membanggakan pantangan taboo.
Bahkan percikan empun tadi tak kupercayai
Bahkan kelelawarpun tak kupercaya benar-benar tidur
Dia disampingmu! Dia sementara tertawa Karena
Tak ada yang akan  percaya.

Lihat, dia di depanmu!

Tondano, 5 juni 2015

Catatan bunuh diri

Pernakah terpikir  di benakmu untuk mengahiri semua kelukesah, masalah, kesenangan, keputusasaan dan lain sebagainya yang dirasakan setiap manusia?
Mengahiri hidup adalah bagian yang selalu menghiasi perjalanan kehidupan
Sirkulasi kecemasan selalu berputar seperti bola yang dimainkan oleh pesepak bola
Kadang berada di samping, kadang berada di atas dan kadang berada di bawah.
Tapi pastinya itu selalu ada dan turut mendampingimu di bumi yang penuh dengan sampah ini.

Terkadang setan dan tuhan tidak bisa dibedakan oleh manusia tapi saat ini sudah dapat di bedakan mana yang benar  dan mana yang salah diantara mereka hanya dengan mengikuti aturan yang dibuat oleh pemimpin kita dapat membedakan mana setan dan tuhan sementara hati sudah dicuci dengan sabun dan terus menyatakan bahwa itu adalah hal yang benar. Apakah memang demikian?

Apakah kalian percaya bahwa tuhan terkadang menggunakan cara yang dipakai setan untuk mencobai anaknya atau mungkin tuhan yang menyuruh setan untuk mencobai anaknya seperti  seorang Ayup. Dengan cara apa kalian dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah jika kalian tidak mengikuti pencucian otak yang petinggi kalian lakukakan? Tentu kalian akan menjawabnya dengan mengatakan “dengan melihat buahnya. Atau dengan melihat perbuatannya”. Jawaban seperti itu menurutku memang benar dan saat ini kalimat seperti itu juga digunakan orang modern untuk menjatuhkan mereka yang masih menggunakan praktik-praktik keduluan.

Hal ini yang kumaksud akhirilah hidupmu jika pemimpinmu membawamu kedalam jurang yang penuh dengan duri yang tajam dan membawamu untuk dimakan binantang buas yang sementara kelaparan padahal binatang tersebut diciptakan hanya biasa-biasa saja namun yang luar biasa adalah segambar dan serupa denganNya. Bukankah itu membanggakan?

6 Januari 2015

Gayamu selalu kutiru dalam setiap kegelapan
Terbayang jiwa yang ceria dalam tawa itu
Takjub kulihat matamu

O ini tak masuk akal.
Ini hanya buang-buang waktu.

Aku berusaha melahirkan sesuatu yang baru.
O kelahiran itu membodohiku.
Berapa banyak hal yang kuhabiskan dengan cinta ini.
O sungguh hatiku ingin terbang
Berbagai macam parfum telah tertancap di pakaian ini
Begitu banyak pakaian kupakai dan hampir semua telah ku nikmati.

O ini tak masuk akal
Ini hanya buang waktu
Cinta hanya buang-buang waktu.
Ini kebodohan yang membanggakanku
Hari ini aku tahu, aku hanya buang-buang waktu.

13 Mei 2015

Hari ini kunjungan Sinyo di tempat yang dingin dan dikenal dengan berbagai macam bunga dengan makna yang menyatu dihadapannya.
Siang ini dia terlamun diantara langit mendung, disetartai kicauan burung rinceng membuat Sinyo melenceng pikiran. Serentak dia berangkat dibalutan kain merah kecoklatan dan keluar untuk melihat senyawanya yang katanya akan melewati persinggahannya ini.
"Senyawa? Ah bahkan aku sendiri tak tahu dimana nyawaku dan bagaimana aku mendapatkannya sampai membawanya pulang dihadiratku"
Begitu banyak pandangan mempesona melambaikan tangan pada Sinyo yang berdiri di atap rumah. Mata yang tajam memancarkan kekaguman dilapisi pakaian merah dan celana jeans melambangkan keganasan masa membuat mereka tarkagum menanti bahkan mencium pipi Sinyo.

"Dasar manusia-manusia sinting! Hari ini pekerjaanku hanyalah menjebak kalian. Hari ini aku dapat melihat wanita hanyut dalam keindahan luar termakan dengan mode. O sungguh aku sangat membenci sifat durhaka itu"

Akhirnya Sinyo masuk kembali kedalam kamarnya dengan bermaksud mengambil istirahatnya sebentar untuk menemani kesendiriannya. 
"Alangkah indahnya hari ini aku menemani kamu wahai manusia tak bernyawa" ucap istirahatnya sambil mengelus kepala Sinyo.

"Hari ini dan beberapa hari yang lalu aku berusaha menjumpai wanita yang kurindukan untuk kumiliki. bahkan sampai saat ini aku tetap menanti kedatangannya setiap hari aku mencuri waktu yang disimpan dan aku melirik kegitan yang dia lakukan lewat buatan penindas itu. Hari ini aku butuh balutan tanganmu untuk menemani istirahatku sejenak dan saat bangun aku mempunyai kepercayaan baru untuk mendapatkan penantianku"

Rindu sinyo tak pernah luntur bahkan ketika dia tahu begitu banyak pemangsa diluar yang berusaha mendapatkannya.

"Aku akan menemanimu wahai insan yang tak bersyarat namun temaniku untuk berkeliling menikmati balutanmu"

Mendengar hal itu Sinyo dengan sekejap bangun dan begitu kecewanya dia "sungguh aku sangat mempercayaimu untuk menemaniku. Hari ini aku memutuskan untuk tidak akan tidur. Bahkan istirahatkupun aku tak kupercaya"

14 Mei 2015

Kaget dia ketika mendengar badannya mengalami perubahan daya disaat tulang belulangnya tertancap didataran papan yang di balut dengan kain sutra yang kusam.
"Ahhhhh....." teriak wanita itu ketika melihat sesosok yang berada di sampingnya. Badan yang sedikit lebih tinggi darinya wajah yang kabur dan masih sulit dijelaskan yang lainnya. Berlari dia menuju si Inyo yang tertidur dipangkuan singgasananya.

"Tuan, maafkan kelancangan hamba sudah berani masuk di tempat yang tak layak ku tempati" ucapnya sambil merunduk didekat kaki si Inyo.

"Ada apa budak?" Tanya Inyo dengan expresi wajah kesal dengan kelancangan wanita itu.

"Aku melihat ada sesosok yang tak tahu apa itu dan dia berada di sampingku ketika aku sementara tidur, dia menatapku begitu tajam sampai pikirku untuk lari kemari. Jika tuan tidak percaya aku berikan buktinya" sambil berdiri dengan perlahan dan mengambil tangan Inyo dan disentuhkannya dada yang berdetak kencang.
"Kurangajar! Begitu lancangnya kamu menyentuhku bahkan kau ingin mempermalukanku karena aku begitu sulit menyentuh kamu seperti manusia pada umumnya" si Inyo balik marah ketika wanita itu tak sopan.

18 maret 2015

Wanita itu terbangun disaat fajar memberikan sentuhan ditepi kanannya dan serentak detak jatungnya menjadi cepat ketika dia merasakan matahari lagi. Diketahuinyalah bahwa kehidupannya adalah kesia-siaan jika habis didalam lumbung kebinasaan.

"Ini memang salahku, ini memang salah kami ketika menguasai tempat ini. tak sedikitpun yang berani menentang kami saat kediktatoran ayahku yang tamak tak berpendirian. Saat ini mereka telah menguasai kami. aku menyesal menjadi manusia" Teriak wanita yang mengalami kesengsaraan akibat orang lain itu. 

Inyo dalam degupnya ternyata selalu datang diselah-selah jerami tempat tinggalnya dan selalu memperhatikan kesedihan wanita itu namun pun merasa kekuasaan dirinya hanyalah kesia-siaan dan tak akan abadi. Takut dirinya mendekati wanita itu dia pernah menolongnya saat wanita itu hampir mati disana.

 "Mengapa ketakutan itu mengahantuiku bahkan disaat aku memiliki segalahnya" ucap Inyo sambil menggonggong.

17  maret 2015

Logo organisasi yang berasal dari Desa Tondei
Wanita itu merintih dalam tangisannya, berdebar dia ketika mengingat perbuatan ayahnya yang berpendidikan namun menindas para binatang yang tak mengenal lelah dalam membangunan tempat itu. Kini para binatang yang di pimpin Inyo berhasil menguasai dunia dan manusia menjadi anjing yang setiap saat menjulurkan lidah. mencari makanan di tempat sampah, berhubungan sex di tempat-tempat umum dll. Kini Inyo mendapatkan gelar Mephistopheles gelar yang di anggap pantas untuk mereka yang membuat dunia pada titik derajat yang sama. 

"Mengapa wanita itu begitu sedih? Bukankah dia mestinya gembira karena masih merasakan nafas dari tuhan yang mereka ciptakan?" Gumam Inyo dalam hati sambil menggelengkan kepalanya.

16 maret  2015

Badanya semakin dingin di tengah selangkangan itu, mungkin dia akan mati dalam lima menit kedepan jika dia tak mendapat bantuan dari Inyo. Wanita itu sudah pasrah dengan keadaannya yang akan mati sia-sia karena usahanya meminta bantuan dari inyo tidak berhasil. 

"Ulurkan tanganmu wanita! Begitu sulit diriku untuk membantumu dengan kejahatan kalian pada bangsaku. Tetapi betapa sintingnya diriku membantu dirimu" kagetnya wanita itu mendengar ucapannya. dan begitu heran dia ketika inyo bisa berbicara layaknya seperti manusia biasa.

 "Terima kasih" Inyo pun langsung meninggalkannya dan mencari makanan di seberang.

15 maret 2015


Si Inyo menggonggong sambil menjawab "kalian berjuang tapi sia-sia! Modal pengetahuan membodohi 'diri' apa gunanya berpengetahuan?" Di sela-sela selangkangan terdengar teriakan manusia yang meminta bantuan pada si inyo namun sulit bagi wanita itu untuk berkomunikasi karena si Inyo mengonggong dan si wanita itu berusaha mengonggong tapi si Inyo membiarkanya

14 maret 2015



Kaget Sinyo mendapati tempat yang penuh dengan kesuburan nyamuk berdiri manusia yang memenangkan dunia kearifan Sinyo.

"Kenapa yang kusanjungi melipat kaki dan dengan santai berbagi sunyuman padaku? O sang dewa yang tak kupercaya membebaniku dengan senyuman ini. Kemana lagi aku menyimpan senyuman ini? Segala bentuk dalam diriku sudah penuh dengan keindahanmu manusia pujaanku".

Ingin rasanya Sinyo memegang tangan itu di depan semut dan nyamuk sambil berkata 
"o indahnya kelembutan yang kunanti ini telah ku sentuh"

Sesaat setelahnya terdengar suara yang ditujukan pada semut dan nyamuk.
"Aku akan pergi kembali di kehidupanku disebrang jalan"
Terkejut Siki mendengar penantiannya akan pergi.

12 Mei 2015

Kau datang menghampiriku
Rasanya mimpi itu benar menghampiriku.
Keajaiban apa ini?
Apa yang harus kulakukan?

Tepat yang di depan mataku
O mata yang menyala itu
Dia kini di depan mataku.
Apa yang harus ku lakukan dengan mimpi ini?

O sungguh katakan bagaimana bagaimana kau mendapatkan senyawa ini
Sampai aku terbawa kesenangan ini?

Hujan lebat membebani penantianku
Tepukan Penyiksa tetap terpendam.
Biarkan suara hati tak terucap.

O cinta pertamaku tak terucap.
Kini apa lagi yang harus kubilang pada diriku dengan ini?
Kini aku harus bilang apa pada tangan dan kakiku?

Layang-layang yang melayang pun sudah kehilangan tuan.
O tepukan penyiksa!

10 Mei  2015

Mira

Musik keras dengan alunan cermin depresi berteriak
Kemana manusia yang kehilangan menghilang
O indah tubuhmu menggambarkan pesona riang memanah
Mira sungguh dalam-dalam aku terhantam diskotik merah
Beriringan hidup dengan sejuta narkoba ini menghiasi malam dengan rangkaian keindahan pagi

O Mira keindahan wajahmu menghiaskan kemasan lukisan abstrak dengan kehidupan tandatanya
Berjalanlah denganku hai penerbang dengan hempasan pasir memutih
Di tambah bongkahan batu pantai
rasuki aku
Kemana lagi perjalanan panjang ini
jika tak kulihat pipimu yang merah lambang
Kebersamaan.

Oh sungguh indah hal ini
Oh sungguh berbuah
Oh tanamanku

Marilah kepadaku dan bermain angin di panas yang keras
Tusukanya tak kupeduli lagi jika berjalan dengan  gandengan
Sutra.
Mira, diamkupun mencoba menjauhi pantai o
Memang persoalan kesulitan dengan kehilangan kerinduan
Membuatku tak tahan.
Sungguh kuharap ini mimpi dan bangun di atas puncak sinonsayang dan melihat pantai dari atasnya.

Sejuta puisi tak mempertahankan  keadaan ini
Sejuta pohon  tak mampu memberikan  nafas
Pun bahkan nadi sampai berhenti berdenyut
Hanya membuat penyegar dahaga rasa.


16 april 2015

O KEARIFAN

Rasa panas dengan ringan memberatkanku dengan kekakuan sang pelita di petang yang bising
Riak-riak kemenangan menjembatani peradabannya. Sesuatu membendung jembatanku. beratku tak lagi mampu ditahan oleh jembatanku.
Sungguh, sungguh keramaian tempat itu membingungkan masa dari masa sampai masaku membingungkanku.
O sungguh kearifanmu meramaikanmu dalam kekacauan polosmu.
O sungguh pendapatan masamu memasakan mereka dengan kearifanmu.
O sungguh aku terpenjara dengan banyak dentingan nadamu, akupun terpenjara dalam hal pemujaan.
O bagaimanakah kau menjaga kearifanmu dengan berderatan pendosa malu yang sementara mengantri mendapatkan bagiannya?
O sungguh dengan apakah kearifanmu menjembatani bahkan membentengimu?

O sungguh apa yang akan kau lakukan dengan melihat kearifanmu yang memuncak kebawah yang sedang asik dalam sumpahnya.

Pendosa malu sementara menyirami kearifanmu dengan tenaga batuan segar dan memberimu makan air yang penentang masa.

O dengan apakah kearifanmu terjaga?
O dengan apakah kearifanmu berjuang?
O kearifan, apakah kau mengingat pendosa di belakang pendosa malu?
O aku membanggakan kearifanmu!

Apa yang akan terjadi jika kearifanmu menghilang? Tak lain aku akan meninggalkannya dan mencari kearifan yang baru.

29 April 2015

PLINGGIR

Menikmati penerbanganmu,
Itu yang selalu berada di dalam bagian selku.
Perlahan angin mulai menampakan diri dan seketika itu terlihat
Hangatnya perjumpaan di udara yang menghangatkan juga
Di saat sayap terhantam angin.

Penasaranku dengan yang mempermainkannya
Viouwww …
Viouwww …
Tiupanku untuk memanggil angin
Bersamaannya kulayangkan dan terbang ditemani  burung pisok
Melayang menncari siapa pemainya.
O sungguh pancaran matahari membangkitkanku dengan pancaran cahaya
Seakan membantuku mempersatukan ini.

Sungguh takbisa kulupakan melihat layang-layang itu
Menyambut benang dan seakan terjadi pertarungan diudara
Seketika itu salah satu dari keduanya terlepas dan popong.

Putarbale!!!

Sabtu, 20-Juni-2015


Sandaran mata melirik senyuman di seberang rumput menyiratkan mata ini sementara berimprofisasi.
“marilah dan hampirilah manusia penuh kesenyapan ini. Tibakan aku dengan denyutmu yang tak berdenyut. berikan kasih kehancuranmu dan buatlah ketakutan semakin meraja dipelupuk mata”
Teriak Sinyo pada wanita pencerah itu. Sekonyong-konyong manusia yang penuh dengan pakaian putih itu semakin dekat padanya.
“tak penah kudapati pelupuk matamu meraja dalam kehancuran, tak pernah kudapati kesenyapan dalammu namun perlahan kemauanmu membebani dan berusaha menyamatkan keserakahanku padamu”

16 Juni 2015

Para bedebah ini membumbung kebawah dan berbangga dengan kebawahannya
Sempat tempat para bedebah itu di tempati Sinyo
Namun tak kunjung lama ketika dilihatnya manusia dengan pakaian jubah sarjana mulai membuat aksi akrobatik di tengah penonton yang histeris dengan tipuan sederhana.
Rasanya ingin di buktikan Sinyo tipuan yang membawa petaka itu namun melihat Siki melayang dengan kesengannya rasanya tak ingin dihancurkannya kenangan itu.

21 Juni 2015

Masuk melalui perdamaian jiwa, tiba-tiba si Buntal dengan sengatan gigi tajamnya tertanam dipelipis Sinyo. Dia masih berpikir apakah ini masih dalam standar bercanda atau tidak.
Masih pun dia tetap berpikir namun semakin sakit gigitan Buntal.
Selesaikan ini binatang jalang dan tetaplah di jalan
Lihat langkah pejalan disana yang terpenjara dalan jalanan mereka.

30 Agustus 2015

Kalau kau belum memberikan hatimu,
Apa yang sudah kau lakukan?
Apa yang sudah kau lakukan di persinggahan ini
Jika kau belum memberikan hatimu?
Apa yang sduah kau lakukan?

Apa yang kau lakukan di dunia ini  jika tak pernah
Merasakan jatuh cinta?
Tuhan pun akan bersuka cita dengan
Pandangannya padamu.

25 januari 2015

SRIGALA
Mata kembali terbuka disaat sedang bercumbu
Dengan tidurku yang nyanyak
Cahaya itu menyinari ruangan yang sepi ini
Dengan keceriaan yang disadukan bersama
Kicauan burung.

Barang kali saat seperti ini yang ku inginkan
Namun tak kuinginkan
Sungguh kesenyapan tadi yang kurindukan untuk hadir
Di atas pijakan tanah ini.
Alangkah indah jika itu terepenuhi dengan sejuta keseriusan diri.

Oh laksana rasannya aku hidup berdampingan
Seperti Toar dan Lumimuut.
Jika me’em I maapi aku percaya itu untukku
Dan bukan si srigala lapar yang berkeliaran.

Rasanya aku ingin memaki mentari ini dengan
Sejuta makian yang terdapat dalam koso’
Waau ... keanehan yang menjadi postur yang mendambakan pelangi
Namun aku juga srigala lapar.

10 Februari 2015

Hujan yang bercampur panas ini menandakan kematian seorang akan muncul
Disaat petang dalam kabut tebal yang bercampur remang.
Kematian itu akan kubuat sedikit cahaya padam  dimalam hari
Dan sedikit musik klasik  membawaku dalam kerasukan untuk menghintari kecamuk
Pemusnah.

Aku ingin musnah tanpa pemusnah itu.
Sugguh ini gila, hal itu harus kulewati jika ingin berakhir seperti itu.
Orang setengah waras menghujaniku dengan sejuta bahasanya yang tak kumengerti
Bahkanpun sebaliknya.

Mimpi yang mampir di malam itu adalah proses penguasaan diri untuk belajar
Menentang diriku bahkan orang lain yang dekat dengan kemudaannya.
Tak perlu hari ini kau membanggakan dirimu
Suatu saat hal yang membuatmu kuat dengan sendirinya akan
Memakanmu.

Hai manusia pembual, hentikan kemualanmu! Malam ini kau akan merasakan
Damainya kehidupan sesudah kematian.

10 Februari 2015


Tiba-tiba  si Usi masuk melewati pinggiran gedi
Yang subur disamping jendela wanita yang sedang senyum sendiri
“mimpi ketika aku menginginkanmu disetiap kesunyianmu
Selalu malam aku membayangimu aku bisa membuat mimpi.
Permadani disamping pantai o mimpi basukan sedikit lagi
Durasimu”

Tiba-tiba tanpa disadari si Usi terlelap disaat Siki
Menunggu mimpi dan akhirnya dia tertidur
Dan di bagunkan nyamuk dengan berbagai jenis.

29 Oktober 2015

Terjebak nostalgia

Semangat pagi memulai kehidupan
Dengan dingin embun kemarin.
Semangat siang berdampingan dengan kesenagan pagi
Malampun tiba dengan seberkas cahaya pagi dan siang.

Sungguh perjalanan ini menyenangkan malam.
Wahai sang malam teruslah bercahaya dengan senyuman siang.
O purnama membangkitkan srigala pemburu.

Tondei 4 Juli 2015

Mendesah si Impit meraba kegelapan. cahaya lilin ditelapak kanannya
Tak mampu menerangi ruangan itu.
Ah nampaknya manusia bijaksana ini  manusia pendosa. aku berkata padamu
“ratapkanlah dirimu manusia pendosa aku berkata padamu
Dunia ini akan terbelah sekalipun anak petir menolong kalian”

Tiba-tiba cahaya dengan seketika itu terbuka.
Si Impit tahu ini hanyalah permainan rekayasa
Sang pembuncit perut.

22 Agustus 2015

Hari dimana peranan dosa menghampiri pecundang gembel.
Di berkatilah anak gembel ini dengan kepenuhannya yang
Rakus harap. Mengumpulkan pedang dengan memberikan
Kebenaran namun kepentingan diri yang di pentingkan.

“hey badut gembel pendidikanmu tak lagi ku perhitungkan!
Kau beronani dengan kesenanganmu dan menjatuhkan puing intan
Pada pesona lain berdalih kebenaran, berdlih kesejahteraan” kataku.

Ingin rasanya kutusukan belati ini
Di pelipis mata kirimu agar kau sadar kirimu itu adalah
Kanan bahkan lebih dari itu.

Ratapan hari ini mendesakku untuk segera
Melemparinya dengan bunga bangkai supaya dia mampu
Beradaptasi dengan kebusukannya itu.

18 September 2015

Slave or?

Every moment I heard your name with spirit of shout.
I knew spirit that you gave has made me amazed
Your soul pour of me.

Let shout!

I Yayat U Santi!

Hear my voice and you’re gonna let your madness!
Hear my voice and take control!
Hear my voice and finally you can find yourself!

I cared of you ‘cause your voice it doesn’t heard
Let your voice be your sword for cut the enemies that ready kill you.
Let change the situation become a peace.

I Yayat U Santi!

It become your soul when you accept it
Or you’re gonna be slave in your place.

Tataaran 29 Oktober 2015

Suara pembangkit listrik itu terdengar jelas malam itu
Penerangan malam ini berada di tempat-tempat mereka yang menengah keatas.
Namun kegelisahan masih membumbung tinggi disini.
Suara kendaran terdengar lamban dan penuh semangat.
Para penggiat malam mengaktifkan diri di depan jembatan itu.

Saat ini kami terperangkap dalam tempat sendiri dan tak ada jalan keluar untuk berlari.
Hanya penerangan itu yang membuatku terganggu oleh kebisingannya.
Tetes demi tetes air yang berada di atas kabel itu jatuh dan mengagetkan perasaan
Yang hangat itu. sungguh suatu sentuhan yang membekukan badan diatas
Langit yang berbintang ini.
Riwayatkan dirimu dengan sejuta tanda yang membentangkan seisi bagianmu
Dan sekali lagi
Ahhh … pun kembali menetes.



Terkejut saat Sinyo mendapati tulisan itu di lantai yang dibubuhi keriangan prajurit semut dan dermaga yang menanti kapal yang akan tiba namun keadaan ini tak seperti suasana penunggu yang menanti kekosongan tak pasti. Perlahan mata yang binar itu kini meresahkan puing-puing bambu. Wajah yang tertekan kesakitan batu dan jantung semakin cepat berdetak. hati yang melebur dalam dekapan surya meledak dengan seketika.
"Arrrhhh!" Kembali teriakannya didengungkan dengan harapan alam bebas mampu memberi tanggapan keadaannya. Sebotol alkoholpun menjadi pelampiasan Sinyo yang duduk kesakitan disamping rumah yang mempunyai tanaman pisang dan reruntuhan tanah.
Terkejut Usi melihat Sinyo yang sudah tak biasa lagi.
"O engkau pecundang hampa, teriakanmu tak akan memabukanmu dengan sebotol itu"
Sinyo berbalik badan dan langsung menujukan matanya di suara itu dan dia menjawab "alangkah indahnya bercumbu diatas daunan yang memisahkan antara mata dan hati namun sulit bagiku untuk tenang saat ini dan jangan kau tenangkan aku hai makhluk pencuri damai"
Tak ingin melanjutkan percakapan itu, akhirnya siusi pergi dan berpikir tak ada guna mengambil damai pada yang tak damai.

Kasih yang tak sampai di puncak yang itu.

7 Mei 2015

Terkejut Sinyo mendengar bahwa Siki telah mendapat pasangan dalam keadaan ini. Berat baginya saat ini melanjutkan perjuangannya dalam hal menunggu tanggapan yang menyenangkan Sinyo tetapi hal ini justru semakin tersiksa dalam keadaan. "Arhhh" rasa sakit yang menjadi jadi dalam dirinya sehingga teriakannya menjadi simbol kehancurannya.
Siki mengetahui keadaan Sinyo yang semakin tertekan namun dalam benaknya Siki tak mau mengecewakan Sinyo dengan cara pergaulannya ├Żang tak mampu bertahan dengan keadaan. Pertemanan menurut Siki yang tepat untuk Sinyo.
"Begitu beratnya perjuangan ini, akankah kudapat menggapai dan memegang hati siki dengan erat. Jika aku dapat memegangnya sungguh tak kusia-siakan kesempatan ini" gumamnya dalam hati sambil mengenduskan nafas yang panjang tanda tetap menunggu siki

6 Mei 2015

Tidur terkulai didasari oleh sisa-sisa bambu yang disia-siakan manusia durhaka .membuat Sinyo merentangkan badannya dan menyentak dengan keasikan dunia.
"O bagaimana hari ini duniaku? O bagimana waktu kesendirianku? Dimana engkau makhluk pencuri damai? Sesungguhnya aku terjatu dalam subur palsu. O sakit jiwa kecilku tertusuk manusia penyiksa batin. O dimana keseharianku? O dimana manusia pertamaku? Aku memerlukan topeng yang tak mampu di tebak oleh si manusia pencuri damai. Barangkali putri malu mampu meminjamkan duri yang pemalu itu. Ah aku bisa bertanya." Dalam hatinya berbicara mencari si duri pemalu itu. Dalam badan yang terlentang pasukan semut pemalas menghiasi kakinya yang penuh dengan kelembutan rindu.
"Jiwaku berusaha memasang duniamu o Sinyo. Hari ini pembayaran dosa membumbung dihadapanku dan aku akan merasuki jiwamu yang halus dengan kesunyian. barangkali kau begitu indah untuk ketololanmu yang menanti sesuatu yang tak pasti! Aku akan merasukimu dan biarkan kau sadar bahwa aku adalah jiwamu yang sebenarnya kau simpan" duri pemalu itu berusaha meyakinkan sinyo bahwa dia telah membiarkan durinya merunduk tanpa pernah disentuhnya.
"O diriku, apapun diriku yang kau katakan sesungguhnya sumur yang dalam ini menyiksaku namun aku tak mau keluar dari sumur ini. Biarkan aku terbawa dengan air busuk dalam penantian ini"

11 Mei 2015

Ungkapan Untal

Habiskan denyutmu dengan segenap keresahan jiwa
Meratapi kegagalan kemarin.
hari ini dan besok meringankan beban jiwa
Kemunafikanmu kemarin memerkan kebusukanmu hari ini dengan kesombongan esok.
Rinduku tak lagi bersamamu dan aku lebih memilih mati
Demi menjauhi kemanusia busuk dalam kalian.

Dengarkan musik ini dan kau
Akan terbawa dalam minggu yang suram untuk menikmati harapan sia-sia.
Masuklah dan cobalah rayu dengan kemapanan sintingmu!
Kau akan mendapatkan cercaan jika tanpa kemunafikan dalammu.

Hal itupun akan membumbung tinggi dan akan roboh dengan sendirinya
Mati adalah jawaban.


Tataaran November 1, 2015